“Hebat kamu Fan,” kataku saat ku lihat Arfan menyelesaikan suapan terakhirnya.
“Hah?” Seketika Arfan menoleh ke arahku, sedangkan mulutnya masih sibuk mengunyah. Dia pun langsung mempercepat kunyahan dan menelannya. “Apanya yang hebat?”
“Tuh,” Ku tunjuk piringnya dengan bibirku, sambil ku dorong piringku hingga berdekatan dengan miliknya. “Rumah makan ini tak perlu tukang cuci piring, kalau semua tamunya sepertimu.”
“Ha ha ha, kira-in apaan.” Dia cuma tertawa singkat dan sibuk membersikan mulutnya dengan tisu.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama aku melihat, betapa bersih piringnya setelah makan. Tak ada satu butir nasi pun tersisa. Lama-lama, aku tak tahan juga untuk tidak berkomentar.
Bahkan saat makan ikan sekalipun, hampir-hampir tak ada lagi bagian daging ikan itu yang bersisa kecuali tulang-tulangnya. Bersih, benar-benar bersih.
Aku menatapnya lekat, menunggu penjelasan atau pembelaan atas komentarku.
“Hah?” dia heran saat sadar aku terus menatapnya. Rupanya dia tak menyangka aku membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Saat melihat ekspresi penasaranku, dia pun tersenyum. “Mungkin, karena kebiasaan kali ya?”
Jawabannya malah sebuah pertanyaan.
“Maksudnya?” ku jawab pertanyaanya dengan pertanyaan lagi.
Dia malah kelihatan keheranan. Mungkin dia pikir, pertanyaanku tadi bukan pertanyaan penting. Tapi aku sudah terlanjur penasaran. Pokoknya, harus ada penjelasan yang masuk akal!
Dia tersenyum. Dan aku juga faham arti senyumnya. Arfan adalah sahabat karibku. Dan dia adalah orang yang paling faham tentang ku begitu juga sebaliknya. Dan dia tau, jika sudah penasaran, maka aku akan berubah menjadi orang menjengkelkan sebelum rasa penasaran itu hilang. Dan senyumnya itu sesungguhnya mewakili kalimat: kumat lagi dia!
“Dulu,” akhirnya dia memulai penjelasannya setelah menarik nafas agak panjang. “Waktu masih kecil, setiap kali minum susu, Bundaku pasti akan cerewet tentang satu hal. Dia selalu memintaku untuk menghabiskan susu ku sampai habis sehabis-habisnya.”
Sesaat, matanya melihat ke arah langit-langit, seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu.
“Bahkan sampai tetes terakhir!” lanjutnya tiba-tiba sambil menatapku tajam. Dia tersenyum lagi.
Aku diam, persis seperti anak kecil yang sedang mendengarkan dongeng kancil dan buaya.
“Namanya juga anak kecil, aku selalu saja tak menghiraukan perintah Bunda.” lanjutnya dan diakhiri dengan tawa ringan. “Dan hebatnya, Bunda tak pernah bosan untuk memintaku menghabiskan susu ku.”
“Lambat laun, aku pun akhirnya mengikuti perintah Bunda. Aku habiskan susu ku hingga tetes terakhir.” Tutupnya sambil menunjukkan ibu jari dan telunjuk yang berdempetan padaku.
Aku masih diam menatapnya lekat.
Dia melirikku dan tersenyum lagi. Menarik nafas panjang dan melanjutkan. “Sejak itu, aku mulai terbiasa untuk menghabiskan semua makanan sehabis-habisnya.”
Dia memberikan jeda panjang. Aku mengangguk-angguk.
“Uda!” seru Arfan pada pemilik warung setelah memastikan aku tidak bicara lagi.
Aku hendak mengeluarkan dompet, tapi ternyata kalah cepat dengan Arfan yang sudah terlebih dulu menyerahkan uang seratus ribu ke pemilik warung.
“Hmm.. Emangnya, kamu gak berusaha nanya alasannya?”
Aku memanfaatkan waktu tunggu dengan sebuah pertanyaan lanjutan. Sekali lagi, dia tersenyum lepas. Senyumnya kali ini, terjemahannya adalah: belum sembuh rupanya!
Dia hendak mengatakan sesuatu, tapi urung karena Uda datang lagi membawa uang kembalian.
“Terima kasih Da,” Seru Arfan yang dijawab lambaian tangan oleh Uda yang sekarang sibuk melayani tamu lainnya.
“Hmm.. Abis ini, kamu ada acara nggak?” Tiba-tiba Arfan mengajukan pertanyaan di luar isi pembicaraan tadi.
“Enggak, kenapa emangnya?” jawabku sambil mengikutinya keluar rumah makan.
Dia berhenti dan menoleh ke arah ku.
“Temen-in aku yuk.”
“Kemana?”
“Udah, ikut aja. Gimana?”
Aku cuma mengangguk. Lagian, aku kan numpang motornya.
Kebetulan, kami kos ditempat yang sama. Dan jika jadwal kuliah kami bersamaan, aku bisa hemat ongkos angkot, plus punya ojek pribadi!
Kalau dipikir-pikir, Arfan itu orang yang sedikit nyeleneh menurutku. Yang ku tahu, ayahnya adalah seorang pejabat daerah. Tapi anehnya, dia memilih kos di tempat yang sama dengan kos ku. Kos murah meriah.
Dan saat bertemu ayahnya, aku malah tak menyangka dia seorang pejabat. Kalau saja waktu itu tidak ada Anton, mungkin aku akan mengira ayahnya cuma pegawai biasa.
Ternyata, ayah Anton adalah bawahan ayahnya Arfan!
Anehnya, kalau Arfan memilih kos sepertiku, Anton malah disediakan sebuah apartemen dan sebuah mobil Jazz keluaran terbaru oleh ayahnya.
Arfan emang nyeleneh!
…………..
Jam tanganku menunjukkan pukul 16.05 saat motor yang kutumpangi berhenti di halaman rumah yang bertuliskan Panti Asuhan Al-Amin. Cukup jauh juga. Satu jam lebih perjalanan yang telah ku tempuh, sudah termasuk macet.
Tempat yang ku kunjungi, berada di dalam gang yang hanya cukup satu mobil. Halamannya cukup luas dan ditanami rumput. Dua pohon besar berdiri disudut-sudutnya, membuatnya terasa sejuk.
Kulihat Arfan melepas helm-nya, dan masuk ke dalam rumah. Aku mengikutinya.
Rumah itu rumah lama. Pendek dan dindingnya agak kusam. Tapi saat masuk didalamnya, udara tidak panas layaknya rumah-rumah pendek. Mungkin karena dua pohon besar didepan yang memayunginya.
Beberapa foto terpampang di dinding, yang dibeberapa tempat cat-nya telah mengelupas. Di kiri, sebuah sofa butut dan beberapa kursi kayu tersusun rapi. Sedang di sisi kanan, terdapat sebuah meja dan monitor komputer diatasnya. Di depan meja itu, ada sebuah kursi yang saat ini diduduki oleh Arfan.
Aku berdiri di belakangnya sambil tengak-tengok melihat sekeliling.
“Assalamu’alaikum, Mas Arfan. Udah lama nunggu ya?”
Seorang wanita berjilbab muncul dari balik pintu yang ditutupi korden dan langsung menyapa ramah pada Arfan. Mereka seperti telah akrab satu sama lain.
“Wa’alaikumsalam, enggak juga Mbak Nisa. Ini baru nyampe kok,” Arfan berdiri sambil memberikan dua tangan yang dirapatkan. Seperti hendak bersalaman, namun tak bersentuhan.
Tak lama, Arfan langsung mengaduk-aduk isi tas-nya dan mengeluarkan amplop putih.
“Ini Mbak, untuk bulan ini.” ia menyerahkan amplop putih. Sedangkan wanita yang dipanggil Mbak Nisa, mulai sibuk mengetik di komputer. Tak lama, ia memberikan kertas, seperti tanda terima, kepada Arfan setelah sebelumnya ada doa-doa.
“Mas Arfan mau langsung atau mau nengokin anak-anak dulu?” tanya Mbak Nisa sambil merapikan komputer.
“Anak-anak lagi sibuk enggak Mbak?”
“Baru aja mereka selesai belajar.”
“Hmm.. Kalo gitu, nengokin dulu deh.”
Arfan memberi isyarat padaku untuk mengikutinya. Mbak Nisa membawa kami masuk ke belakang.
Ternyata, Panti Asuhan ini cukup luas. Keluar lewat pintu belakang ruangan tadi, yang rupanya adalah kantor, ada rumah memanjang yang saling berhadapan. Diantara rumah itu, ada celah yang mirip taman. Ada banyak tanaman disana. Bukan bunga, tapi tanaman seperti cabe, terong dan lain-lain.
Di ujung, dua rumah yang berhadapan tadi bertemu dan terdapat ruang terbuka seperti aula. Atau mungkin juga Mushola.
“Ada Kak Arfan!” Teriak seorang anak dengan tiba-tiba yang membuatku kaget.
Dan hanya dalam hitungan detik, puluhan anak-anak kecil sudah berkumpul mengelilingi Arfan dan berebut untuk bersalaman. Semuanya anak laki-laki. Mungkin, ini adalah panti asuhan untuk anak laki-laki.
“Kak Arfan kemana aja?” seorang anak berkepala cepak bertanya sambil bergelantung di tangan Arfan. Belum juga dijawab, anak lain sudah mengajukan pertanyaan. Mereka nampak begitu manja terhadap Arfan, layaknya anak pada bapaknya.
“Kak Arfan, main bola yuk.” seorang anak yang paling tinggi tiba-tiba muncul membawa bola kaki. Yang lainnya langsung bersorak setuju.
“Baim tanya dulu sama Kak Irwan, udah boleh belum?” jawab Arfan sambil mengangkat salah satu anak terkecil dan menggendongnya. Ada ingus di hidungnya yang langsung di lap oleh Arfan dengan tangannya.
Serempak, semua anak langsung menoleh ke arah laki-laki berkumis tipis yang dari tadi nampak tersenyum. Dia mengangguk.
Seketika semua anak berlompatan sambil berteriak hore dan berlari menuju halaman depan.
Sambil menggendong anak terkecil, Arfan pun mengikuti mereka setelah memberi isyarat padaku untuk mengikutinya. Aku cuma bisa diam, bengong dan keheranan dengan semua yang ku lihat.
“Adik-adik!” seru Arfan ke arah anak-anak yang sudah berkumpul dihalaman depan. Mereka langsung diam. “Kak Arfan sekarang bawa teman yang jago main bola. Jadi, kali ini Kak Arfan pasti menang.”
Tiba-tiba semua mata kini mengarah kepadaku. Aku jadi kikuk, serba salah dan cuma bisa tersenyum sambil melambaikan tangan.
“Kenalin dulu, ini Kak Hari.” kata Arfan lagi.
Tanpa kusangka-sangka, semua anak kini menyerbuku dan berebutan untuk meraih tanganku dan menempelkannya ke kening.
Aku jadi merasa tersanjung. Tidak pernah aku menerima sambutan seperti ini sebelumnya.
“Kak Hari, main sama saya Kak. Sebelah sini.” salah satu anak tiba-tiba menarikku.
“Enggak Donk, Kak Hari main sama kita disini.” tangan kiriku kini juga ditarik.
Arfan nampak tersenyum puas melihatku jadi bulan-bulanan anak kecil.
“Sudah-sudah, Kak Hari main sebelah sini, Kak Arfan main sebelah sana.” Arfan akhirnya turun tangan untuk melerai. “Siapa yang ikut Kak Arfan?”
Mereka memang sangat aktif, dalam hitungan detik, kini berkumpul dua kelompok. Lima anak di sisiku dan lima lagi bersama Arfan. Sisanya nampak cemberut menunggu di pinggir.
Tak lama, aku pun akhirnya berlarian berebut bola bersama anak-anak. Aku melepas kemejaku agar tidak kotor karena baru beberapa menit berlari, aku sudah sempat terjatuh.
Anak-anak itu sangat bersemangat. Mereka begitu senang dan tertawa lepas. Suara teriakan minta operan berkali-kali terdengar. Dan saat gol, mereka merayakannya layaknya pemain bola profesional.
Karena semangatnya, bahkan ada yang tak mau diganti sama sekali. Dan seperti biasa, setelah Arfan turun tangan, semua pun kembali ceria.
“Anak-anak!” teriakan Kak Irwan membuat permainan terhenti. “Sudah hampir Magrib. Ayo, sekarang waktunya mandi.”
Waktu ternyata sangat cepat berlalu. Matahari kini telah condong di barat. Sembunyi diantara awan-awan hingga meninggalkan mega kemerahan. Permainan pun selesai dengan skor 7:2 untuk tim ku.
Kak Irwan tak perlu berkata dua kali. Anak-anak dengan sendirinya kembali ke dalam dan sudah membuka kaosnya. Aku dan Arfan mengikuti mereka dari belakang. Kulihat Arfan tersenyum senang ke arahku.
“Siapa yang mau dimandiin sama Kak Arfan?” tiba-tiba Arfan berseru yang langsung disambut anak-anak dengan mengacungkan jari.
“Baim, kamu sudah besar. Masa masih minta dimandiin sama Kak Arfan. Sudah gak boleh.” Mbak Nisa tiba-tiba muncul dari belakang. Baim langsung cemberut.
Tak lama, Arfan sudah sibuk menggosok punggung beberapa anak kecil berumur sekitar 7 tahunan. Sesekali mereka saling bermain air dan juga berseru kedinginan.
“Mas Hari, mandi dulu. Anak-anak sudah selesai tuh.” Aku sedikit kaget saat Mbak Nisa tiba-tiba memanggil namaku sambil membawa handuk bersih dan sabun.
Aku langsung masuk ke salah satu bilik yang kosong.
Saat aku selesai mandi, Azan berkumandang. Kulihat Fahri, salah satu anak tim bolaku tadi, nampak berdiri di aula. Ia mengumandangkan azan dengan merdu. Sedangkan anak-anak lainnya sudah duduk berderet rapi.
Tiba-tiba, seseorang menggamit tanganku dan menarikku ke Mushola. Waktu kulihat, Rifa, salah satu tim ku juga, nampak tersenyum lucu. Memamerkan dua giginya yang besar.
Mereka cepat sekali akrab.
Selesai sholat dan doa, anak-anak kini membuat formasi melingkar. Ada empat lingkaran dan aku ada disalah satu lingkaran.
Beberapa anak, sepertinya sedang piket, membawa tumpukan piring dan makanan. Mereka membagikan ke masing-masing anak. Aku mendapatkan satu. Sebuah piring plastik berwarna hijau.
“Walna-nya sama.” kata seorang anak tak jauh dari tempatku duduk sambil menunjuk ke arah piringku.
Aku tersenyum. “Iya,” kataku yang disambut kekehan ringan anak kecil yang mungkin berumur 5 tahun itu.
Selesai berdoa, masing-masing menyodorkan piring ke arah Mbak Nisa dan seorang Ibu yang sepertinya seorang juru masak.
Mereka makan sangat lahap. Padahal menunya sangat sederhana. Nasi, sayur lodeh, tempe, tahu dan ikan asin.
Mungkin aku bukan anak orang kaya, tapi sehari-hari, setidaknya ikan segar atau daging ayam pasti tersaji di meja makan. Tapi hari ini, dengan menu seadanya itu, aku pun ikut lahap menghabiskan semua makanan di piring.
Saat ku lirik Arfan, dia malah sebaliknya. Tak seperti biasa yang selalu lahap saat makan, sekarang dia malah begitu santai dan pelan.
“Kak Nisa, Anas boleh nambah?” tiba-tiba seorang anak, mungkin berumur 6 tahun, duduk tegap sambil menyodorkan piringnya yang kini sudah sangat bersih.
Mbak Nisa yang dari tadi duduk di sudut bersama Ibu juru masak, langsung menghampiri Anas dan memeluknya.
“Hmm.. Besok, Kak Nisa dan Bu Sur akan masak yang banyak dan enak, dan Anas boleh nambah sepuasnya. Yah.”
Anas mengangguk, meski ada gurat kekecewaan.
“Eh, punya Kak Arfan belum habis nih,” tiba-tiba Arfan berdiri dan menghampiri Anas. “Anas mau?”
Anas mengangguk dengan senyum merekah. Aku baru mengerti, kenapa Arfan sengaja melambatkan makannya. Aku jadi merasa tidak enak telah makan sangat lahap.
“Yang lain ada yang mau juga?” Arfan menyapu seisi ruangan dengan matanya.
Beberapa anak nampak menyodorkan piringnya. Sedangkan mereka yang sudah besar, meski nampak masih lapar tapi enggan untuk minta.
Mbak Nisa kelihatan tak enak hati. “Maaf loh Mas Arfan, perkiraan masaknya tadi ternyata salah.”
“Bukan salah kok. Tapi adik-adik tadi terlalu bersemangat main bola-nya. Ya kan?” Arfan melemparkan pandangan ke sekeliling.
“Iya. Abisnya seru.” sahut Fahri.
“Iya.. Ada Kak Hari, jadi seru. Dia jago banget main bolanya.” sahut Baim lagi.
Aku kaget saat namaku jadi topik pembicaraan. Ruangan pun jadi riuh. Mereka saling berbagi cerita.
“Kak Arfan, kalah jago sama Kak Hari. Kak Arfan gak pernah menang.” kata Rifa yang duduk disebelahku sambil tertawa lepas. Seketika, semuanya tertawa riuh.
……
Selepas Isha’, Arfan dan aku berpamitan. Anak-anak menyalami kami satu persatu dan langsung berkumpul lagi untuk belajar. Mas Irwan yang ramah dan selalu tersenyum itu, kini sibuk berkeliling menghampiri mereka satu per satu.
“Tidak apa apa, tidak usah diantar.” sergah Arfan saat Mbak Nisa hendak mengantar kami ke depan. “Mas Irwan udah kerepotan tuh.”
Kami pun akhirnya keluar ruangan hanya berdua. Arfan mendorong motor bebeknya sedangkan aku mengikutinya sambil membawa helm.
“Oya Ri. Kamu tadi, waktu dirumah makan, nanya sesuatu kan?” tiba-tiba Arfan menoleh ke arahku. Dia meraih helm dari tanganku dan memakainya.
“Hmm,” aku lupa.
Arfan cuma tersenyum.
“Pernah apa enggak, aku tanya alasan ke Bunda, kenapa aku harus menghabiskan susu sampai tetes terakhir.” Arfan mengulangi pertanyaanku siang tadi.
Aku tak menyangka Arfan masih mengingat pertanyaanku. Awalnya, kupikir dia sudah lupa.
“Kamu tahu?” lanjut Arfan sambil menaiki motor. “Bunda tak menjawab dan cuma tersenyum.”
Ada jeda sesaat dan Arfan melanjutkan lagi. “Tapi besok pagi-nya, ayah mengajakku ke tempat seperti ini. Ke Panti Asuhan.”
“Oh ya?,” cuma itu yang keluar dari mulutku.
Arfan tersenyum lepas. “Seharian aku bermain dengan anak-anak panti asuhan. Mandi bersama dan juga makan bersama.”
Arfan menengadah ke langit. Aku pun secara reflek mengikutinya. Kulihat bintang dan bulan nampak berkilau. Hari ini sangat cerah.
Tak lama, Arfan melanjutkan ceritanya. “Dan saat pulang, ayah bertanya padaku. Jadi.. Kamu tahu jawaban pertanyaanmu ke Bunda kemarin?”
Arfan terdiam sesaat. Menghela nafas panjang dan melanjutkan. “Aku cuma mengangguk. Aku tak bisa mengatakan apa jawabannya, aku cuma bisa mengerti apa jawabannya.”
Suasana jadi hening.
Aku terpaku dengan semua cerita Arfan. Aku cuma bisa diam. Tiba-tiba aku seperti terbang ke masa lampau. Berubah menjadi Arfan kecil. Dan mengangguk seperti yang dilakukan oleh Arfan kecil.
Aku tak bisa mengatakan apa jawabannya, Aku cuma mengerti jawabannya, kataku dalam hati.
“Hei!”
Aku kaget saat Arfan memanggilku. Aku langsung tersadar dari lamunan.
“Kok malah bengong? Kamu mau nginap disini?” Arfan tersenyum puas.
Aku langsung memakai helm dan naik ke motor. Dan tak lama, angin malam pun menerpa wajahku sedangkan bulan seperti mengawasi kami dengan sebuah senyum merekah.

Komentar Terkini: