Sampai Tetes Terakhir

“Hebat kamu Fan,” kataku saat ku lihat Arfan menyelesaikan suapan terakhirnya.

“Hah?” Seketika Arfan menoleh ke arahku, sedangkan mulutnya masih sibuk mengunyah. Dia pun langsung mempercepat kunyahan dan menelannya. “Apanya yang hebat?”

“Tuh,” Ku tunjuk piringnya dengan bibirku, sambil ku dorong piringku hingga berdekatan dengan miliknya. “Rumah makan ini tak perlu tukang cuci piring, kalau semua tamunya sepertimu.”

“Ha ha ha, kira-in apaan.” Dia cuma tertawa singkat dan sibuk membersikan mulutnya dengan tisu.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama aku melihat, betapa bersih piringnya setelah makan. Tak ada satu butir nasi pun tersisa. Lama-lama, aku tak tahan juga untuk tidak berkomentar.

Bahkan saat makan ikan sekalipun, hampir-hampir tak ada lagi bagian daging ikan itu yang bersisa kecuali tulang-tulangnya. Bersih, benar-benar bersih.

Aku menatapnya lekat, menunggu penjelasan atau pembelaan atas komentarku.

“Hah?” dia heran saat sadar aku terus menatapnya. Rupanya dia tak menyangka aku membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Saat melihat ekspresi penasaranku, dia pun tersenyum. “Mungkin, karena kebiasaan kali ya?”

Jawabannya malah sebuah pertanyaan.

“Maksudnya?” ku jawab pertanyaanya dengan pertanyaan lagi.

Dia malah kelihatan keheranan. Mungkin dia pikir, pertanyaanku tadi bukan pertanyaan penting. Tapi aku sudah terlanjur penasaran. Pokoknya, harus ada penjelasan yang masuk akal!

Dia tersenyum. Dan aku juga faham arti senyumnya. Arfan adalah sahabat karibku. Dan dia adalah orang yang paling faham tentang ku begitu juga sebaliknya. Dan dia tau, jika sudah penasaran, maka aku akan berubah menjadi orang menjengkelkan sebelum rasa penasaran itu hilang. Dan senyumnya itu sesungguhnya mewakili kalimat: kumat lagi dia!

“Dulu,” akhirnya dia memulai penjelasannya setelah menarik nafas agak panjang. “Waktu masih kecil, setiap kali minum susu, Bundaku pasti akan cerewet tentang satu hal. Dia selalu memintaku untuk menghabiskan susu ku sampai habis sehabis-habisnya.”

Sesaat, matanya melihat ke arah langit-langit, seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu.

“Bahkan sampai tetes terakhir!” lanjutnya tiba-tiba sambil menatapku tajam. Dia tersenyum lagi.

Aku diam, persis seperti anak kecil yang sedang mendengarkan dongeng kancil dan buaya.

“Namanya juga anak kecil, aku selalu saja tak menghiraukan perintah Bunda.” lanjutnya dan diakhiri dengan tawa ringan. “Dan hebatnya, Bunda tak pernah bosan untuk memintaku menghabiskan susu ku.”

“Lambat laun, aku pun akhirnya mengikuti perintah Bunda. Aku habiskan susu ku hingga tetes terakhir.” Tutupnya sambil menunjukkan ibu jari dan telunjuk yang berdempetan padaku.

Aku masih diam menatapnya lekat.

Dia melirikku dan tersenyum lagi. Menarik nafas panjang dan melanjutkan. “Sejak itu, aku mulai terbiasa untuk menghabiskan semua makanan sehabis-habisnya.”

Dia memberikan jeda panjang. Aku mengangguk-angguk.

“Uda!” seru Arfan pada pemilik warung setelah memastikan aku tidak bicara lagi.

Aku hendak mengeluarkan dompet, tapi ternyata kalah cepat dengan Arfan yang sudah terlebih dulu menyerahkan uang seratus ribu ke pemilik warung.

“Hmm.. Emangnya, kamu gak berusaha nanya alasannya?”

Aku memanfaatkan waktu tunggu dengan sebuah pertanyaan lanjutan. Sekali lagi, dia tersenyum lepas. Senyumnya kali ini, terjemahannya adalah: belum sembuh rupanya!

Dia hendak mengatakan sesuatu, tapi urung karena Uda datang lagi membawa uang kembalian.

“Terima kasih Da,” Seru Arfan yang dijawab lambaian tangan oleh Uda yang sekarang sibuk melayani tamu lainnya.

“Hmm.. Abis ini, kamu ada acara nggak?” Tiba-tiba Arfan mengajukan pertanyaan di luar isi pembicaraan tadi.

“Enggak, kenapa emangnya?” jawabku sambil mengikutinya keluar rumah makan.

Dia berhenti dan menoleh ke arah ku.

“Temen-in aku yuk.”
“Kemana?”
“Udah, ikut aja. Gimana?”

Aku cuma mengangguk. Lagian, aku kan numpang motornya.

Kebetulan, kami kos ditempat yang sama. Dan jika jadwal kuliah kami bersamaan, aku bisa hemat ongkos angkot, plus punya ojek pribadi!

Kalau dipikir-pikir, Arfan itu orang yang sedikit nyeleneh menurutku. Yang ku tahu, ayahnya adalah seorang pejabat daerah. Tapi anehnya, dia memilih kos di tempat yang sama dengan kos ku. Kos murah meriah.

Dan saat bertemu ayahnya, aku malah tak menyangka dia seorang pejabat. Kalau saja waktu itu tidak ada Anton, mungkin aku akan mengira ayahnya cuma pegawai biasa.

Ternyata, ayah Anton adalah bawahan ayahnya Arfan!

Anehnya, kalau Arfan memilih kos sepertiku, Anton malah disediakan sebuah apartemen dan sebuah mobil Jazz keluaran terbaru oleh ayahnya.

Arfan emang nyeleneh!

…………..

Jam tanganku menunjukkan pukul 16.05 saat motor yang kutumpangi berhenti di halaman rumah yang bertuliskan Panti Asuhan Al-Amin. Cukup jauh juga. Satu jam lebih perjalanan yang telah ku tempuh, sudah termasuk macet.

Tempat yang ku kunjungi, berada di dalam gang yang hanya cukup satu mobil. Halamannya cukup luas dan ditanami rumput. Dua pohon besar berdiri disudut-sudutnya, membuatnya terasa sejuk.

Kulihat Arfan melepas helm-nya, dan masuk ke dalam rumah. Aku mengikutinya.

Rumah itu rumah lama. Pendek dan dindingnya agak kusam. Tapi saat masuk didalamnya, udara tidak panas layaknya rumah-rumah pendek. Mungkin karena dua pohon besar didepan yang memayunginya.

Beberapa foto terpampang di dinding, yang dibeberapa tempat cat-nya telah mengelupas. Di kiri, sebuah sofa butut dan beberapa kursi kayu tersusun rapi. Sedang di sisi kanan, terdapat sebuah meja dan monitor komputer diatasnya. Di depan meja itu, ada sebuah kursi yang saat ini diduduki oleh Arfan.

Aku berdiri di belakangnya sambil tengak-tengok melihat sekeliling.

“Assalamu’alaikum, Mas Arfan. Udah lama nunggu ya?”

Seorang wanita berjilbab muncul dari balik pintu yang ditutupi korden dan langsung menyapa ramah pada Arfan. Mereka seperti telah akrab satu sama lain.

“Wa’alaikumsalam, enggak juga Mbak Nisa. Ini baru nyampe kok,” Arfan berdiri sambil memberikan dua tangan yang dirapatkan. Seperti hendak bersalaman, namun tak bersentuhan.

Tak lama, Arfan langsung mengaduk-aduk isi tas-nya dan mengeluarkan amplop putih.

“Ini Mbak, untuk bulan ini.” ia menyerahkan amplop putih. Sedangkan wanita yang dipanggil Mbak Nisa, mulai sibuk mengetik di komputer. Tak lama, ia memberikan kertas, seperti tanda terima, kepada Arfan setelah sebelumnya ada doa-doa.

“Mas Arfan mau langsung atau mau nengokin anak-anak dulu?” tanya Mbak Nisa sambil merapikan komputer.

“Anak-anak lagi sibuk enggak Mbak?”
“Baru aja mereka selesai belajar.”
“Hmm.. Kalo gitu, nengokin dulu deh.”

Arfan memberi isyarat padaku untuk mengikutinya. Mbak Nisa membawa kami masuk ke belakang.

Ternyata, Panti Asuhan ini cukup luas. Keluar lewat pintu belakang ruangan tadi, yang rupanya adalah kantor, ada rumah memanjang yang saling berhadapan. Diantara rumah itu, ada celah yang mirip taman. Ada banyak tanaman disana. Bukan bunga, tapi tanaman seperti cabe, terong dan lain-lain.

Di ujung, dua rumah yang berhadapan tadi bertemu dan terdapat ruang terbuka seperti aula. Atau mungkin juga Mushola.

“Ada Kak Arfan!” Teriak seorang anak dengan tiba-tiba yang membuatku kaget.

Dan hanya dalam hitungan detik, puluhan anak-anak kecil sudah berkumpul mengelilingi Arfan dan berebut untuk bersalaman. Semuanya anak laki-laki. Mungkin, ini adalah panti asuhan untuk anak laki-laki.

“Kak Arfan kemana aja?” seorang anak berkepala cepak bertanya sambil bergelantung di tangan Arfan. Belum juga dijawab, anak lain sudah mengajukan pertanyaan. Mereka nampak begitu manja terhadap Arfan, layaknya anak pada bapaknya.

“Kak Arfan, main bola yuk.” seorang anak yang paling tinggi tiba-tiba muncul membawa bola kaki. Yang lainnya langsung bersorak setuju.

“Baim tanya dulu sama Kak Irwan, udah boleh belum?” jawab Arfan sambil mengangkat salah satu anak terkecil dan menggendongnya. Ada ingus di hidungnya yang langsung di lap oleh Arfan dengan tangannya.

Serempak, semua anak langsung menoleh ke arah laki-laki berkumis tipis yang dari tadi nampak tersenyum. Dia mengangguk.

Seketika semua anak berlompatan sambil berteriak hore dan berlari menuju halaman depan.

Sambil menggendong anak terkecil, Arfan pun mengikuti mereka setelah memberi isyarat padaku untuk mengikutinya. Aku cuma bisa diam, bengong dan keheranan dengan semua yang ku lihat.

“Adik-adik!” seru Arfan ke arah anak-anak yang sudah berkumpul dihalaman depan. Mereka langsung diam. “Kak Arfan sekarang bawa teman yang jago main bola. Jadi, kali ini Kak Arfan pasti menang.”

Tiba-tiba semua mata kini mengarah kepadaku. Aku jadi kikuk, serba salah dan cuma bisa tersenyum sambil melambaikan tangan.

“Kenalin dulu, ini Kak Hari.” kata Arfan lagi.

Tanpa kusangka-sangka, semua anak kini menyerbuku dan berebutan untuk meraih tanganku dan menempelkannya ke kening.

Aku jadi merasa tersanjung. Tidak pernah aku menerima sambutan seperti ini sebelumnya.

“Kak Hari, main sama saya Kak. Sebelah sini.” salah satu anak tiba-tiba menarikku.

“Enggak Donk, Kak Hari main sama kita disini.” tangan kiriku kini juga ditarik.

Arfan nampak tersenyum puas melihatku jadi bulan-bulanan anak kecil.

“Sudah-sudah, Kak Hari main sebelah sini, Kak Arfan main sebelah sana.” Arfan akhirnya turun tangan untuk melerai. “Siapa yang ikut Kak Arfan?”

Mereka memang sangat aktif, dalam hitungan detik, kini berkumpul dua kelompok. Lima anak di sisiku dan lima lagi bersama Arfan. Sisanya nampak cemberut menunggu di pinggir.

Tak lama, aku pun akhirnya berlarian berebut bola bersama anak-anak. Aku melepas kemejaku agar tidak kotor karena baru beberapa menit berlari, aku sudah sempat terjatuh.

Anak-anak itu sangat bersemangat. Mereka begitu senang dan tertawa lepas. Suara teriakan minta operan berkali-kali terdengar. Dan saat gol, mereka merayakannya layaknya pemain bola profesional.

Karena semangatnya, bahkan ada yang tak mau diganti sama sekali. Dan seperti biasa, setelah Arfan turun tangan, semua pun kembali ceria.

“Anak-anak!” teriakan Kak Irwan membuat permainan terhenti. “Sudah hampir Magrib. Ayo, sekarang waktunya mandi.”

Waktu ternyata sangat cepat berlalu. Matahari kini telah condong di barat. Sembunyi diantara awan-awan hingga meninggalkan mega kemerahan. Permainan pun selesai dengan skor 7:2 untuk tim ku.

Kak Irwan tak perlu berkata dua kali. Anak-anak dengan sendirinya kembali ke dalam dan sudah membuka kaosnya. Aku dan Arfan mengikuti mereka dari belakang. Kulihat Arfan tersenyum senang ke arahku.

“Siapa yang mau dimandiin sama Kak Arfan?” tiba-tiba Arfan berseru yang langsung disambut anak-anak dengan mengacungkan jari.

“Baim, kamu sudah besar. Masa masih minta dimandiin sama Kak Arfan. Sudah gak boleh.” Mbak Nisa tiba-tiba muncul dari belakang. Baim langsung cemberut.

Tak lama, Arfan sudah sibuk menggosok punggung beberapa anak kecil berumur sekitar 7 tahunan. Sesekali mereka saling bermain air dan juga berseru kedinginan.

“Mas Hari, mandi dulu. Anak-anak sudah selesai tuh.” Aku sedikit kaget saat Mbak Nisa tiba-tiba memanggil namaku sambil membawa handuk bersih dan sabun.

Aku langsung masuk ke salah satu bilik yang kosong.

Saat aku selesai mandi, Azan berkumandang. Kulihat Fahri, salah satu anak tim bolaku tadi, nampak berdiri di aula. Ia mengumandangkan azan dengan merdu. Sedangkan anak-anak lainnya sudah duduk berderet rapi.

Tiba-tiba, seseorang menggamit tanganku dan menarikku ke Mushola. Waktu kulihat, Rifa, salah satu tim ku juga, nampak tersenyum lucu. Memamerkan dua giginya yang besar.

Mereka cepat sekali akrab.

Selesai sholat dan doa, anak-anak kini membuat formasi melingkar. Ada empat lingkaran dan aku ada disalah satu lingkaran.

Beberapa anak, sepertinya sedang piket, membawa tumpukan piring dan makanan. Mereka membagikan ke masing-masing anak. Aku mendapatkan satu. Sebuah piring plastik berwarna hijau.

“Walna-nya sama.” kata seorang anak tak jauh dari tempatku duduk sambil menunjuk ke arah piringku.

Aku tersenyum. “Iya,” kataku yang disambut kekehan ringan anak kecil yang mungkin berumur 5 tahun itu.

Selesai berdoa, masing-masing menyodorkan piring ke arah Mbak Nisa dan seorang Ibu yang sepertinya seorang juru masak.

Mereka makan sangat lahap. Padahal menunya sangat sederhana. Nasi, sayur lodeh, tempe, tahu dan ikan asin.

Mungkin aku bukan anak orang kaya, tapi sehari-hari, setidaknya ikan segar atau daging ayam pasti tersaji di meja makan. Tapi hari ini, dengan menu seadanya itu, aku pun ikut lahap menghabiskan semua makanan di piring.

Saat ku lirik Arfan, dia malah sebaliknya. Tak seperti biasa yang selalu lahap saat makan, sekarang dia malah begitu santai dan pelan.

“Kak Nisa, Anas boleh nambah?” tiba-tiba seorang anak, mungkin berumur 6 tahun, duduk tegap sambil menyodorkan piringnya yang kini sudah sangat bersih.

Mbak Nisa yang dari tadi duduk di sudut bersama Ibu juru masak, langsung menghampiri Anas dan memeluknya.

“Hmm.. Besok, Kak Nisa dan Bu Sur akan masak yang banyak dan enak, dan Anas boleh nambah sepuasnya. Yah.”

Anas mengangguk, meski ada gurat kekecewaan.

“Eh, punya Kak Arfan belum habis nih,” tiba-tiba Arfan berdiri dan menghampiri Anas. “Anas mau?”

Anas mengangguk dengan senyum merekah. Aku baru mengerti, kenapa Arfan sengaja melambatkan makannya. Aku jadi merasa tidak enak telah makan sangat lahap.

“Yang lain ada yang mau juga?” Arfan menyapu seisi ruangan dengan matanya.

Beberapa anak nampak menyodorkan piringnya. Sedangkan mereka yang sudah besar, meski nampak masih lapar tapi enggan untuk minta.

Mbak Nisa kelihatan tak enak hati. “Maaf loh Mas Arfan, perkiraan masaknya tadi ternyata salah.”

“Bukan salah kok. Tapi adik-adik tadi terlalu bersemangat main bola-nya. Ya kan?” Arfan melemparkan pandangan ke sekeliling.

“Iya. Abisnya seru.” sahut Fahri.

“Iya.. Ada Kak Hari, jadi seru. Dia jago banget main bolanya.” sahut Baim lagi.

Aku kaget saat namaku jadi topik pembicaraan. Ruangan pun jadi riuh. Mereka saling berbagi cerita.

“Kak Arfan, kalah jago sama Kak Hari. Kak Arfan gak pernah menang.” kata Rifa yang duduk disebelahku sambil tertawa lepas. Seketika, semuanya tertawa riuh.

……

Selepas Isha’, Arfan dan aku berpamitan. Anak-anak menyalami kami satu persatu dan langsung berkumpul lagi untuk belajar. Mas Irwan yang ramah dan selalu tersenyum itu, kini sibuk berkeliling menghampiri mereka satu per satu.

“Tidak apa apa, tidak usah diantar.” sergah Arfan saat Mbak Nisa hendak mengantar kami ke depan. “Mas Irwan udah kerepotan tuh.”

Kami pun akhirnya keluar ruangan hanya berdua. Arfan mendorong motor bebeknya sedangkan aku mengikutinya sambil membawa helm.

“Oya Ri. Kamu tadi, waktu dirumah makan, nanya sesuatu kan?” tiba-tiba Arfan menoleh ke arahku. Dia meraih helm dari tanganku dan memakainya.

“Hmm,” aku lupa.

Arfan cuma tersenyum.

“Pernah apa enggak, aku tanya alasan ke Bunda, kenapa aku harus menghabiskan susu sampai tetes terakhir.” Arfan mengulangi pertanyaanku siang tadi.

Aku tak menyangka Arfan masih mengingat pertanyaanku. Awalnya, kupikir dia sudah lupa.

“Kamu tahu?” lanjut Arfan sambil menaiki motor. “Bunda tak menjawab dan cuma tersenyum.”

Ada jeda sesaat dan Arfan melanjutkan lagi. “Tapi besok pagi-nya, ayah mengajakku ke tempat seperti ini. Ke Panti Asuhan.”

“Oh ya?,” cuma itu yang keluar dari mulutku.

Arfan tersenyum lepas. “Seharian aku bermain dengan anak-anak panti asuhan. Mandi bersama dan juga makan bersama.”

Arfan menengadah ke langit. Aku pun secara reflek mengikutinya. Kulihat bintang dan bulan nampak berkilau. Hari ini sangat cerah.

Tak lama, Arfan melanjutkan ceritanya. “Dan saat pulang, ayah bertanya padaku. Jadi.. Kamu tahu jawaban pertanyaanmu ke Bunda kemarin?”

Arfan terdiam sesaat. Menghela nafas panjang dan melanjutkan. “Aku cuma mengangguk. Aku tak bisa mengatakan apa jawabannya, aku cuma bisa mengerti apa jawabannya.”

Suasana jadi hening.

Aku terpaku dengan semua cerita Arfan. Aku cuma bisa diam. Tiba-tiba aku seperti terbang ke masa lampau. Berubah menjadi Arfan kecil. Dan mengangguk seperti yang dilakukan oleh Arfan kecil.

Aku tak bisa mengatakan apa jawabannya, Aku cuma mengerti jawabannya, kataku dalam hati.

“Hei!”

Aku kaget saat Arfan memanggilku. Aku langsung tersadar dari lamunan.

“Kok malah bengong? Kamu mau nginap disini?” Arfan tersenyum puas.

Aku langsung memakai helm dan naik ke motor. Dan tak lama, angin malam pun menerpa wajahku sedangkan bulan seperti mengawasi kami dengan sebuah senyum merekah.

Ilmu..

Sore itu sungguh tenang dan hangat, sehangat jiwaku. Terlebih lagi jika ku ingat kejadian seminggu yang lalu, kejadian yang hampir saja melepas nyawa dari ragaku ini, membuat sore itu jadi semakin hangat melebihi hari-hari yang lalu. Dibuai angin sepoi dan mega emas, kukenang kembali hari itu, hari yang menjadi awal kehebohan yang akan terjadi sore nanti.

Kejadian itu masih jelas tergambar di mata. Dengan riang ku bawa alat pancingku seperti biasa menuju sungai agak jauh di belakang rumah. Memang aku terbiasa memancing setiap sabtu sore di sungai yang tak terlalu besar itu. Kucari tempat biasa aku memancang pancing tapi sayang, tempat itu kini beraliran deras. Aneh, pikirku, tak seperti biasanya.
Akhirnya kususuri pinggir sungai mencari tempat yang lebih tenang, tempat yang paling disukai ikan. Cukup lama hingga ku temui tempat itu, tempat yang luar-biasa. Aku langsung bersiap dan kulempar kail tapi…
Tempat itu ternyata licin hingga kakiku tergelincir. Sepontan ku coba raih kayu disekitar sebagai pegangan, namun ternyata kayu itu lapuk dan patah. Begitu cepat tubuhku terperosok dari tempat yang cukup curam dan menggelinding jatuh menuju air. Aku berusaha mengepakkan tangan dan kaki seperti burung namun semakin lama tubuhku semakin tenggelam. Aku baru sadar aku tak bisa berenang!

“Toloooong!!” tanpa tersadar aku berteriak sekuat tenaga disertai semburan air yang mulai masuk ke mulut. Aku masih terus berusaha untuk meronta agar terus mengambang, namun tak lama dan berlahan semua menjadi gelap dan perutku terasa penuh.
Samar namun pasti, tubuhku melayang seperti terbang ke atas. “Ah, sudah matikah aku? Kemanakah aku akan pergi, ke surga atau ke neraka?” hatiku berkecamuk. Tubuhku terasa terus terangkat hingga permukaan bahkan mengambang diatasnya, namun lemah hingga mataku tak mampu ku buka lebar agar tahu surga atau nereka kah kini berada.

Pelan kudengar suara memanggil namaku, seperti dari kejauhan. “Bud…, Budi…,” Dan semakin lama semakin jelas. “Ah, suara pak Kyai!” hatiku berseru. “Ah, mengapa suara pak Kyai ada disini? Apakah pak Kyai juga sudah disurga?” pikirku dalam hati.
Berlahan mataku mulai bisa kubuka dan silau. Berlahan pula bayangan pak Kyai hadir dihadapku.
“Pak Kyai?” seruku cepat. “Kenapa pak Kyai ada disini?”
“Tenang Bud, tenang… Memang kenapa kalo Bapak disini?”
“Tapi.., pak Kyai belum.. belum..,”
Ia tersenyum, “Tentu saja Bapak belum mati, kamu juga belum kok!”
Aku bingung bercampur lega. Dengan lembut pak kyai membopongku yang masih lemah dan mengantarku pulang. Tapi, kuat juga pak Kyai mampu mengangkatku dan anehnya bagaimana pakaiannya tidak basah jika tadi ia menolongku dari air. Yah, pakaian putihnya masih kering!

***

Matahari semakin condong ke barat, bayangan pohon tepi sungai mulai menutupi permukaan air sungai yang kini cukup deras. Tempat yang biasa sepi dan hanya dilalui para pencari ikan itu kini ramai seperti pasar adanya. Orang-orang berduyun-duyun, Bapak-bapak, Ibu-ibu, remaja juga anak-anak bercampur memadati pinggir sungai. Semua menanti dengan tak sabar kedatangan seseorang, seseorang yang terus saja disebut-sebut orang yang kini berdiri di pinggir sungai sambil berkacak-pinggang. Pakaiannya serba hitam dengan tutup kepala hitam pula. Kumisnya lebat dan paras mukanya nampak begitu angker. Ia dikenal sebagai Ki Golang, dukun setempat yang ditakuti. Berkali-kali ia menyumpah dan berteriak-teriak.
“Mana Kyai Mullah! Jangan-jangan ia takut ketahuan kalo ilmunya tak ada seujung jariku!”.
Berkali-kali sambil hilir mudik ia berteriak.
Aku yang sedari tadi ada situ merasa tak enak. Yah bagaimana aku bisa tenang bila kejadian ini berawal dari diriku, dari mulutku ini yang yang terlalu lancang. Walaupun setahuku aku hanya bercerita pada dua orang temanku, toh cerita itu semakin menyebar cepat melebihi kecepatan suara.
Cerita pun semakin tak utuh dan semakin besar, bahkan cerita terakhir sungguh menjadi sebuah cerita layaknya legenda. Katanya pak Kyai bisa berjalan diatas air! Meskipun aku yakin pak Kyai mampu untuk melakukannya, tapi aku berani bersumpah aku tak bercerita seperti itu!”

Orang-orang semakin ramai berbisik seperti dengung tawon dan tiba-tiba menjadi senyap saat sebuah langkah menuruni jalan setapak. Sosok yang berwibawa dengan jenggot yang mulai memutih sungguh serasi dengan pakaiannya yang putih bersih. Ia berjalan dengan berlahan namun pasti, diikuti pandangan orang-orang yang penuh dengan terkaan juga perkiraan.

“Nah, datang juga akhirnya! Kupikir pak Kyai takut untuk kemari?” Sapa ki Golang sinis.
“Hanya Allah yang patut ditakuti ki Golang,” jawabnya bijaksana “Nah, saya mohon maaf telah terlamabat, karena tadi ada orang yang minta tolong.”
“Ha ha ha, baguslah, ku pikir engkau takut Pak Kyai!”
“Hanya Allah yang patut ditakuti ki Golang,” sekali lagi Kyai menjawab dengan jawaban yang sama “Nah, sekarang ada apa sebenarnya sampai harus mengundang orang sebanyak ini?”
“Ha ha ha jangan pura-pura tak tahu Kyai, semua orang juga tahu cerita tentang kehebatan Kyai.”
“Kehebatan? Kehebatan apa?”
“Sudahlah Kyai, semua orang sudah dengar cerita yang katanya Kyai bisa berjalan diatas air. Sombong sekali Kyai, cuma bisa begitu sudah mengumbarnya ke masyarakat! Kalo cuma berjalan diatas air, saya juga bisa, bahkan menyeberangin sungai ini!”
“Astoghfirullah, saya tak pernah berkata seperti itu,” Pak Kyai menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melirikku yang berdiri tak jauh darinya. Aku semakin menjadi tak enak.

“Nah, Bapak-bapak Ibu-Ibu juga semuanya, kini saatnya saya perlihatkan siapa sesungguhnya yang terhebat didesa ini! Saya sudah 40 hari mengasah ilmu dan tirakat untuk hari ini, dan saat ini adalah saatnya untuk memperlihatkan hasilnya!” ki Golang berseru kepada seluruh masyarakat yang sedari tadi senyap menanti dengan  penasaran.

Ki Golang melirik dan tersenyum sinis pada Kyai Mullah yang masih diam tak bergerak juga tak berkata. Ia melakukan persiapan dan duduk bersila dipinggir kali. Lama ia duduk berdiam dengan khusuk dan tiba-tiba ia berdiri. Dengan sebuah teriakan yang membahana ia berlari menuju air sungai yang mengalir deras. Luar biasa, seakan sebuah daun ia berlari ringan diatas air! Benar-benar diatas air! Semua orang nampak takjub tak percaya dengan pemandangan yang mereka saksikan. Ki Golang benar-benar berjalan diatas air sambil berlari.
Hanya Kyai Mullah yang nampak tenang bahkan lirih kudengar ia mengucap “Astoghfirullah.”
Aku hanya merasa bingung dengan semua ini, bagaimana kyai menyikapinya, “ah aku benar-benar bodoh!” pikirku dalam hati.

Tapi pemandangan luar biasa itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba ki Golang berteriak kuat dan… ia tenggelam tepat ditengah sungai yang beraliran deras. Seluruh masyarakat berteriak tak percaya. Mereka berlari ke pinggir sungai.
Kyai Mullah yang sedari tadi diam langsung berseru memanggil Dullah dan Amir.
“Cepat, kalian tolong ki Golang!”
Orang yang diperintah langsung terjun ke sungai menolong ki Golang yang tak kelihatan lagi.

Lama juga Dullah dan Amir berenang menerjang aliran sungai yang deras dan menyelam menggapai ki Golang yang tenggelam. Untunglah ada Dullah dan Amir yang memang paling jago berenag di desa, dan akhirnya ki Golang dapat dibawa dipinggir.
Kyai Mullah menghampirinya dan mengurut jari kaki ki Golang dan tak lama ki Golang tersadar. Tapi tiba-tiba ki Golang berdiri sehat  seakan tak terjadi sesuatu dan tertawa.
“Sudah-sudah, aku tidak apa-apa! aku cuma tenggelam, aku memang gagal tapi aku sudah separuh perjalanan!” teriak ki Golang.
“Nah pak Kyai, sekarang giliranmu! Kalo Kyai bisa menyeberang melebihi yang aku bisa, aku akan bersujud dikakimu!”
“Subhanallah, hanya Allah yang patut untuk diberi sujud ki Golang!”
“Rupanya Kyai takut?”
Kyai hanya menggeleng tak percaya dengan kebengalan ki Golang. Dia hanya diam namun tak lama ia berkata.
“Baiklah,” sepontan seluruh masyarakat bersorak dan bertepuk tangan.
“Tapi, bukan aku yang akan melakukannya!” masyarakat kembali terdiam.
“Nah ki Golang, berapa lama ki Golang belajar agar bisa menyeberangi sungai ini?”
“Ha ha ha 40 hari tirakat, puasa!” jawab ki Golang sombong.
“Baiklah, aku akan mengajarkan cara menyeberangi sungai ini pada seseorang dalam waktu dua jam!”
Semua orang menjadi terdiam tak percaya dengan ucapan Kyai, bahkan ki Golang melotot tak percaya.
“Jangan bercanda Kyai,” katanya.
“Saya tidak bercanda dan saya akan mengajarkannya pada Budi!”
Aku seperti disamber geledek saat mendengar namaku disebut. Aku hampir tak percaya sampai akhirnya tanganku digandeng Kyai ke depan. Mungkinkah Kyai bercanda, ataukah ini hukuman untukku karena telah mempermalukannya?
Ataukah ia bersungguh-sungguh akan mengajarkan ilmunya padaku. Hatiku dag dig dug!

***

Dengan berwibawa, Kyai menggandengku ke tengah masyarakat tanpa banyak bicara. Beliau meminta golok dan tali pada seseorang dan memintaku untuk membawanya. “Mungkinkah ini salah satu alat untuk berlatih?” tanyakku dalam hati penasaran. Tapi Kyai mengajakku ke pepohonan disekitar sungai dan memintaku untuk menebangnya satu diantaranya yang tak terlalu besar. Juga dua pohon pisang dan membawanya ke pinggir sungai. Dengan cekatan beliau mengikat kayu dan dahan pisang menjadi satu. Ia juga mengajariku.
Tak lama, tak labih dari dua jam, terbentuk sebuah rakit kecil dengan dahan pisang dipinggirnya juga sebuah galah yang cukup panjang. Dan tanpa banyak bicara dia mengajakku menariknya ke pinggir sungai dan membisikan sesuatu padaku. Aku menggangguk dan seketika aku menjadi tenang luar biasa.
Dengan sekuat tenaga ku jatuhkan rakitku ke sungai dan menaikinya. Semua orang masih bengong ada juga yang berbisik.
Aku bersusah payah mengendalikan rakitku agar tak hanyut oleh aliran deras sungai. Entahlah, kekuatan apa yang telah kuperoleh tapi semuanya terasa ringan. Arus sungai yang deras itu mampu ku lewati dengan mudah, seakan aku mendapat tenaga dari orang yang kuat yang tak kelihatan. Aku hanya butuh setengah jam untuk menyeberangi sungai dan kembali lagi.

Setelah sampai ditepi lagi, Kyai menggapai tanganku untuk naik ke daratan. dan Beliau berkata.
“Nah Bapak-bapak Ibu-Ibu juga semuanya, semua bisa menyeberangi sungai ini tak hanya saya. Bahkan Budi yang sekecil ini,” belau memandangku dan tersenyum, “pun mampu.”
“Ilmu itu ada banyak ada ilmu yang wajib juga yang sunah dan semua itu adalah Ilmu Allah. Nah tugas kita adalah mempelajarinya dan memilih ilmu mana yang paling berguna dan bermanfaat juga efisien bagi kita. InsyaAllah, apapun ilmu itu jika dicari dengan jalan Allah, Allah akan meridhoinya..”
Kyai Mullah masih menggandeng tanganku dan mengajakku pulang.
“Sekarang mari kita pulang, mari kita terus bekerja sesuai dengan ilmu yang Allah anugerahkan pada kita. Ada yang diberi ilmu bertani, ada yang diberi ilmu nelayan juga ada yang diberi ilmu mengajar. Mari kita pulang…”

***

Kejadian sore tadi masih membuatku terus berfikir, apakah Kyai benar-benar bisa berjalan diatas air? Tapi kenapa kemarin beliau malah mengajari aku membuat dan menaiki rakit? Tidakkah Kyai takut malu pada ki Golang?

Pertanyaan itu terus terngiang hingga aku bertemu Kyai Mullah setelah sholat Isya. Beliau nampak berseri memandangku.
“Nah Budi, ada apa?” tanyanya lembut.
“Saya mau minta maaf sudah merepotkan Kyai,” kataku pelan.
“Tidak, tidak Bud, kamu malah membantu Bapak,”
“Membantu?”
“Iya,” aku bingung dan hanya mengerutkan dahiku.
“Kamu sudah membantu Bapak untuk berdakwah,” lanjut Kyai.
“Tapi Kyai, Budi boleh tanya sesuatu pada Kyai?”
“Tentu,”
“Tapi Kyai jangan marah,” Beliau tersenyum lebar.
“Buat apa Bapak marah? Nah apa yang mau ditanyakan?
“Sebenarnya Kyai bisa berjalan diatas air kan?”
Kyai tersenyum lembut dan membelai rambutku.
“Apapun itu, bila Allah menghendaki bisa terjadi” Kyai tersenyum lagi seperti biasa. Sungguh berwibawa dan sejuk.
Aku menjadi yakin, Kyai bisa berjalan diatas air, bahkan mungkin beliau juga yang membantuku mengendalikan rakit meski tak terlihat..
Yah aku yakin, dan aku ternsenyum bersama senyum Kyai Mullah.

***

Biarlah kerikil tajam dihadapan
Biarlah batu terjal menghadang
Raihlah ia
penunjukmu
pelitamu dalam hidupmu

Sungguh luas ia hingga ke penjuru dunia
Sungguh beraneka ia dan berwarna
Dan pilihlah ia
Yang terbaik untukmu
yang bermanfaat bagimu

Ia adalah ilmu

RSN–21/06/04/–RSN

Makna Bintang..

Bintang yang bertaburan dilangit, memang indah dan memberi inspirasi bagi milyaran manusia di bumi. Dan ternyata, bintang memiliki makna yang berbeda-beda bagi beberapa golongan orang..

Bagi para Ilmuwan:

Bintang adalah benda langit yang bersinar karena reaktor nuklir didalamnya. Atom-atom digabungkan hingga memuntahkan energi dan membuatnya memancarkan cahaya juga energi ke planet-planet disekitarnya..

Bagi para pujangga:

Bintang adalah jutaan makna. Penghibur sekaligus pemberi harapan. Teman bagi mereka yang sendiri juga saksi untuk mereka yang bercinta.

Bagi para tentara:

Bintang adalah obsesi. Bintang adalah harga diri tertinggi. Bintang adalah kilau yang harus diraih. Bintang adalah harkat juga martabat. Bintang adalah kekuasaan.

Bagi orang kaya dan pejabat:

Bintang adalah tempat memanjakan diri. Bintang adalah tempat rapat dan terkadang untuk lakukan hal-hal bejat.

Bagi para pemabuk:

Bintang adalah lambang kenikmatan. Bintang memberikan segala yang tak bisa diraih dan berfikir dan berusaha. Cukup dengan Bintang, segala fatamorgana ada didepan mata. Cukup dengan Bintang, masalah hilang meski tak lama kan kembali datang.

Bagi rakyat jelata:

Bintang adalah minuman sehari-hari. Tanpa Bintang, entah apa yang akan terjadi. Kepala senut-senut sepanjang hari. Karena semua harga membumbung tinggi hingga semua tak terbeli. Untung ada Bintang, murah dan dapat dibeli hingga ke pelosok negeri. Langsung telan, puyeng pergi..

Ternyata benar gak selamanya menang..

Ternyata benar gak selamanya menang..

Sudah 10 tahun aku meninggalkan “indahnya” kehidupan sebagai siswa PKKT. Ada banyak kenangan indah yang bisa ku kenang, namun sebuah peristiwa kecil dan ringan, seperti terpahat permanen dalam karang ingatanku.

Aku masih ingat dengan jelas wajah-wajah temanku yang masih lugu dan bersemangat. 10 anak berpakaian serba biru sedang menerima petuah bijak dari Pak Rompas, intruktur kerja bangku kami di PKKT.
Hari itu adalah hari terakhir Pak Rompas mengajar kami, karena ditingkat 3, kami tak lagi mendapat program kerja bangku.

Masing-masing dari kami diberi kesempatan untuk mengutarakan kesan dan pesan. Yah, tentu semua kesan kami adalah klise.
Namun ada yang berbeda dari teman kami yang luar biasa, Arfan. Entah apa kesan-kesan yang ia ungkapkan, tapi kami terfokus pada kata “keniscayaan” yang terucap.

Dan entah mengapa, kami semua tertawa bersamaan. Rupa-nya, inilah yang disebut kebodohan kolektif.
Hanya karena kami belum pernah mendengarnya, maka kami menertawakannya. Dan men-justifikasi, temanku yang luar-biasa itu, mengada-ada.

Seiring berjalannya waktu, pengetahuanku pun bertambah. Dan alangkah malu-nya aku, akhirnya, ribuan kali aku mendengar kata “keniscayaan” sebagai kata yang umum.

Yah, benar bisa kalah oleh kebodohan kolektif…

RSN-25/11/09-RSN

Yang Masih Misteri

Tuhan..
Kaulah yang menggerakkan jiwaku
Kaulah yang memompa detak jantungku
Kaulah yang menghembuskan seluruh nafasku

Tuhan..
Kaulah yang memenuhi rizkiku
Kaulah yang menjaga langkahku
Kaulah yang menentukan matiku

Tuhanku
Kaulah pemilik rencana
Kaulah pemilik misteri
Kaulah pemilik dia yang kini masih mimpi

Tuhanku
ku bermohon dalam hati
namun kuyakin pasti
Kau mendengar doa ini

RSN-04/09/09-RSN

Dialog Dua Dunia

Mereka berteman sejak kecil. Bahkan, sejak mereka belum mengerti apa arti teman. Dan bersama-sama, mereka melangkahi tiap fase kehidupan yang tanpa disadari, telah memberi mereka pelajaran tentang arti persahabatan.

Namun siapa sangka, ketika akhirnya, mereka memahami bahwa tak ada persahabatan sejati tanpa pernah di uji. Dan mereka pun berpisah, berusaha meraih mimpi-mimpi mereka sendiri.

——

Sore itu, seperti biasa, sebuah berita mudah menyebar disepanjang gang sempit yang penuh mahluk-mahluk berfikir ciptaan Tuhan. Seorang ustad Kondang, akan berceramah di mesjid dekat pertigaan. Gang itu pun riuh dengan bisik-bisik ibu-ibu.

“Eh Bu de, ntar datang ke pengajian gak..?”, tanya seorang ibu berjilbab rapi ke ibu penjual sayur sambil memilih daun bayam yang nampak masih segar.
“Waduuuh, gak sempet saya Bu Sri..”
“Kalo saya sih, pasti gak datang..”, sahut ibu yang nampak sibuk menggendong anaknya sambil memijit-mijit ikan.
“Loh, kenapa Mbak Iin?”, tanya ibu berjilbab penasaran.
“Hmmhh.. dulu, pas belum ketauan belang-nya, ceramahnya itu emang enak di kuping. Nah, kalo sekarang, kita kan dah tahu siapa pak Ustad sebenernya.. Bilangnya, kita mesti bersabar.. Ya siapa yang bisa sabar kalo tiba-tiba suami kita kawin lagi..”

Ibu-ibu yang lain hanya manggut-manggut.

——

Tak seperti biasa, pintu rumah itu tertutup rapat. Bahkan, sejak rumah itu berdiri 20 tahun yang lalu, rumah itu layaknya rumah yang tak memerlukan daun pintu. Rumah itu selalu hidup 24 jam, seperti slogan apotik ternama. Dan mungkin, sudah ribuan atau bahkan jutaan orang berbeda, telah melewati lubang pintu rumah itu. Tak tanggung-tanggung, mulai dari orang kecil baik secara fisik maupun konotasi, juga orang besar. Karena-nya, sang pemilik menjuluki rumahnya sebagai “lesehan rakyat”.

Yah, memang demikian ada-nya, rumah ala jawa yang luas itu, hanya satu set meja kursi kecil dari kayu jati usang ratusan tahun yang mengisi sudut ruangan. Katanya, warisan turun-temurun. Sisa-nya, lebih sering berupa hamparan tikar.

Namun, kata “rakyat”, terkadang sedikit tidak sesuai dengan beberapa tamu yang berkunjung. Tak tanggung-tanggung, seorang presiden pun pernah duduk di kursi jati ratusan tahun itu.

Dan memang tak seperti biasa, jam dinding baru menunjuk pada angka 9, bahkan jarum panjangnya pun belum melewati angka 12, pintu rumah itu tertutup rapat. Di atas kursi jati, laki-laki beramput gondrong sebahu nampak sedang menikmati serbuan nikotin yang menyerang paru-parunya. Asap rokok yang telah melewati pembuluh-pembuluh paru-paru, seakan berlomba memenuhi ruangan yang luas itu.

Empu “lesehan rakyat” ingin istirahat sejenak. Demikian ucapnya singkat pada sang istri yang langsung mengangguk sempurna dan bergegas menutup pintu. Sang empu memang kurang istirahat, pikir sang istri. Betapa tidak, dalam sehari, mungkin hanya 2 jam sang empu tidur.

Saat sang istri hendak mengambil bantal, tiba-tiba pintu rumah itu diketuk.
Sang istri mematung menatap daun pintu dan menoleh pada sang empu.
Mungkin sudah 25 kali pintu itu diketuk, namun sang empu masih diam dan saat ketukan hampir 27 kali, ia mengangguk.

Dengan sigap sang istri membuka pintu. Dihadapnya, nampak sosok berpakaian putih dengan sorban terbelit di kepala. Ia mengucapkan salam dan dibalas dengan salam pula.
“Bapak ada?”
“Hmm.. ada.. tapi bapak sedang bersiap untuk istirahat..”
“Boleh bertemu, barang semenit..?”
“Siapa Las?”, sang empu berseru dari kursi jatinya.
“Pak Ustad..”
“Ustad siapa?”
“Ustad Dul..”
“Astaga..!”, seru sang empu lantang, sambil bangkit dari kursi jati menuju pintu.
“Kamu Dul?”
“Iya, saya Man, Abdullah..”
“Astaga, angin dari mana ini? Eh, aku masih boleh panggil kamu Dul kan?”
“Hahaha, memangnya namaku sudah ganti.”
“Masuk-masuk.. Astaga, angin dari mana ini.. Lastri, kamu tahu siapa dia ini?”
Sang istri diam sejenak dan sedikit bingung. “Ustad Dul..”
“Ya ya ya.. dia itu, gak cuma ustad kondang.. Dia itu, sahabat saya waktu kecil.. Yah, sahabat ku.. Oya, ambilkan minum dan kue..”, sang empu tersenyum sumringah, seperti anak kecil yang sedang memamerkan mainan baru.

——

“Saya sudah dengar, katanya ada ustad terkenal bakal berceramah di mesjid kampung ini.. Ternyata, itu kamu ya Dul..”
“Masya Allah Man, terkenal apa-nya? Kamu itu yang tersohor.. Siapa orang di bumi pertiwi ini yang tak pernah mendengan nama Sulaiman, sang penyair..”
“Hahaha.. ngomong-ngomong, tadi bagaimana ceramahnya?”
“Yah, alhamdullilah, ada yang datang..”
“Maksudnya ada yang datang? Bukannya ceramahmu selalu dipenuhi jamaah? Malah di TV pernah ku lihat ribuan orang hingga masjidnya tak mencukupi..”
“Yah Man, itu kan dulu.. Lagian, jumlah nya juga gak sebanyak orang yang selalu membaca syair-syair mu. Sekarang sudah berbeda Man..”
“Hmmm.. yah, saya juga sudah dengar, katanya, semenjak kamu berpoligami ya..?”
“hahaha.. Ya, tapi saya selalu mencoba untuk bersyukur Man.. Dulu, saya tak pernah sempat punya waktu untuk keluarga. Sekarang, setidaknya, saya memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga. Hahaha.. Apapun kondisinya, kita harus mampu beryukur.. Bukan begitu Man..?”
“Loh, kamu yang jadi Ustad, kok malah bertanya padaku..”
“Ya, mungkin benar saya Ustad, tapi sebagian besar masyarakat di bumi pertiwi ini, masih jauh lebih percaya pada kata-kata penyair ketimbang kata-kata ustad.”
“Hahaha, kamu bisa aja Dul..”
“Bagaimana kabar Sri, istri pertama-mu?”
“Oh, kabar-nya baik-baik saja.. Dia sekarang, sedang ke Australia. Dia sedang ingin melanjutkan studi-nya.. Yah, tak mengapa, lagian masih ada Lastri..”
“Tapi semua-nya baik-baik saja kan..?”
“Yah, tentu.. Mereka memang sudah akrab sejak dulu kan..?”
“Syukurlah..”
“Memangnya.. Ada masalah dengan kedua istri-mu?”
“Tidak.. tidak ada apa-apa.. Hanya saja, kami terkadang lelah dengan pemberitaan yang berlebihan..”
“Hahahaha… ya ya ya.. Kamu tahu Dul, kadang-kadang, aku merasa beruntung menjadi penyair ketimbang ustad seperti mu..”
“Hahahaha…”

Perbincangan dua sahabat lama itu, semakin hangat. Sedangkan jam dinding, tak pernah peduli atau sekedar menunggu. Kini kedua jarumnya telah berimpit pada angka 12.

RSN-07/08/09-RSN

Sebuah perjalanan..

Terkadang, sesuatu yang kita lakukan sekian lama yang kemudian kita tinggalkan, dapat menjadi sebuah kerinduan bagi kita untuk mengulangnya kembali. Walau terkadang sekedar untuk bernostalgia…

Dan sore itu, ku putuskan menulusuri kembali jalur Pancoran-Grogol bersama bis 46 ex Jepang untuk menghempaskan kerinduanku akan segala aktifitas dinamis yang selalu terjadi dalam bis. Aku yakin banyak yang akan setuju saat ku katakan bis ini jauh lebih nyaman dari P6 yang memiliki kasta satu tingkat di atasnya. Namun sayang, terkadang sang pilot terlalu bersemangat dalam mengemudikannya sehingga duduk di dalamnya, terasa seakan terbang bersama pesawat supersonic!

Saat yang menyenangkan untuk melakukan perjalanan menyisiri kota jakarta adalah minggu sore. Lalulintas tidak terlalu padat, penumpang relatif lebih sedikit dan udara pun terasa lebih nyaman. Dan sore itu lumayan cerah, ku awali perjalanan dari halte Bukopin. Tak perlu waktu lama, bahkan aku tak sempat duduk saat bis 46 merapat ke halte yang dengan sigap aku melompat kedalamnya.

Satu yang pasti saat masuk dalam bis, jangan pernah berharap akan mendapatkan senyum gratis dari sang awak bis. Sesuatu yang konon merupakan ciri khas bangsa kita. Tapi mungkin kita yang seharusnya maklum karena aku bahkan tak yakin, mereka telah mendapatkan gaji 2 bulan terakhirnya dari PPD. Tak mengapa, aku pun duduk di jajaran kursi paling belakang yang masih kosong untuk satu penumpang lagi.

Bis yang kutumpangi relatif penuh, maksudku hanya beberapa orang yang berdiri. Dan bila melihat dari jumlah tempat duduk yang terbatas dan fasilitas pegangan tangan yang bergelantungan dimana-mana, nampaknya bis ini memang di desain untuk penumpang berdiri. Dan aku sungguh menikmati situasi ini. Situasi yang sesungguhnya ideal bagi angkutan umum.

Ku sapu seluruh isi bis dengan pandanganku yang berbinar. Kurekam segala aktifitas dalam bis dalam memoriku yang terbatas. Lumayan senyap. Hanya deru bis yang bersaing dengan deru kendaraan disekitarnya serta teriakan sang kondektur yang menjadi backsound perjalanan. Beberapa orang yang duduk nampak berusaha menahan mata untuk tetap terbuka. Bahkan beberapa orang telah terlelap bersama ayunan kendaraan yang seakan menina-bobokan.
Setelah puas merekam segala detil aktifitas dalam bis, ku lemparkan pandanganku keluar jendela hingga membentur deretan gedung-gedung bertingkat yang tersiram oleh pancaran sinar matahari sore. Dan tak terasa, bis yang kutumpangi telah merapat di halte komdak.

Beberapa orang turun dan beberapa orang juga naik, seperti pertandingan lari estafet. Pria dan wanita nampak berbaur seakan memastikan bahwa emansipasi wanita telah tegak berdiri. Tak lupa sang kesatria bergitar pun meramaikan bis yang kutumpangi. Hanya sekilas kulihat sang kesatria itu naik dan mencari tempat untuknya sekedar berbagi suara, sedangkan perhatian ku terusik oleh deretan kendaraan disekitar semanggi. Hari minggu, namun jalanan Jakarta tetap bagai lautan besi..

Terakhir yang kuingat, sang kesatria itu sedang mempersiapkan diri untuk konsernya. Entah aku terlalu fokus pada lalu lalang kendaraan disekitar bis ataukah sang kesatria telah membatalkan konsernya hingga aku tak mendengar satu baitpun lagu. Sang kesatria itu telah mengedarkan bungkus permennya kesetiap penumpang tanpa hasil sedikitpun. Lucunya, tanpa ekspresi kecewa sang kesatria itu langsung duduk dikursi sebelahku yang telah kosong. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi seraya melepas penat.
Mungkin aku sedikit paranoid, sehingga dengan gerakan yang tak mencurigakan, ku periksa seluruh barang bawaan ku yang kuletekkan di saku celana. Dua HP di kanan dan kiri serta dompet dibelakang aman! Aku yakin bila ada yang melihatku pasti akan mengatakan aku bereaksi berlebihan, tapi mendengar cerita dari teman-temanku rasanya hal itu lebih baik ku lakukan.

“Bang, sampeyan mo kemana?” tiba-tiba sang kesatria itu bertanya.
“Ke grogol..” jawabku singkat dengan memaksakan senyum.
“Bang, nanti kalo sudah sampe pancoran…”
“Wah, ini mah ke arah grogol bukan ke arah pancoran. Kalo arah pancoran ke sono.” kupotong kalimatnya sambil menahan geli dan memberi isyarat tangan ke arah belakang bis.
“Oh… iya ya… Tadi… aku naik di komdak, trus… ooo iya ya ha ha ha… aduuuh pusing neh kepalaku..”
“Kalo mau ke pancoran, diam aja terus di bis, ntar juga puter balik bisnya kalo dah sampe grogol.” komentarku sambil tetap menahan geli melihat ekspresinya yang lucu.
“Yah, ga enak donk Bang ama supirnya. Masa lama-lama di bis..”

Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawabannya. Sebenarnya aku malas untuk melanjutkan obrolan tapi entah mengapa aku seperti menikmati obrolan dengan sang kesatria itu. Matahari telah tenggelam dan gelapnya malam ini telah berkuasa penuh. Hanya lampu-lampu jalan dan mobil yang nampak berkelip bagai memberontak atas kuasa malam. Sedangkan bis tetap melaju.

“Ga dapet apa-apa nih Bang..” sang kesatria itu tiba-tiba membuka pembicaraan. Aku menoleh untuk sekedar memberikan senyum.
“Tapi ga pa pa.. saya sih orangnya ga maksa Bang.. Kalo dikasih syukur ga juga ga pa pa..” lanjutnya sambil membalas senyumku. Aku berusaha menahan tawa.
“Wah jangan-jangan loe suka maksa ya??” Aku meledek.
“Gak Bang.. Kalo saya ga pernah maksa Bang… Kalo anak padang itu Bang yang suka maksa..” Waduh pikirku, kenapa pembicaraan ini jadi rasis. Aku cuma bisa membalas dengan senyum.
“Abang tau kan? pokoknya gampang beda-innya dari mukanya Bang.. Tapi mereka ga berani Bang di sini.. 46 ini aman kok Bang..”
“Oya?”
“Iya Bang..”

Sekilas kulihat wajah sang kesatria itu. Masih muda sekali, mungkin lulus SMA itupun kalo dia bersekolah. Kulitnya legam karena sengatan matahari yang diramu dengan debu dan polusi asap kendaraan. Tidak ada sisi sangar dari penampilannya, bahkan aku selalu ingin tersenyum bila melihatnya.

“Temen-temenku banyak yang dipenjara Bang..”
“Di penjara?” aku tak bisa menyembunyikan rasa keheranan.
“Iya Bang, ditangkepin ama Trantib!”
“Di penjara?” Aku masih tak percaya dengan kata penjara.
“Iya..”
“Loh emang pada nyolong? nyopet ato ngejambret kok di penjara?”
“Na itu dia Bang.. Kita kagak nyolong, kagak ngejambret.. tapi ditangkepin ama trantib trus di penjara..”
“Di tangkep trantip trus di penjara?” Aku makin heran.
“Na itu dia Bang.. Emang mereka polisi? Polisi aja kalo ngeliat kita ngamen diem aja. Eh ini trantib main tangkep trus di penjara. Kalo polisi emang nangkepin kita wajar kalo kita di penjara..”
“iya sih..” aku mencoba memihaknya.
“Mereka pada dipukulin tuh Bang di sana..”
“Oya? Kok gitu?” sumpah kalo ini aku kaget.
“Na itu dia Bang..”
“Emang loe pernah juga di penjara”
“Pernah Bang.. Pernah juga, pas mo ditangkep saya lari lompat dari Bis. Kepleset saya Bang, sakit kaki saya Bang..”

Entah mengapa, obrolan kami semakin seru dan hangat. Aku tak lagi memperhatikan dinamika bis. Satu hal tersisa yang pasti kulakukan adalah memastikan aku sudah sampai di tujuan. Sedangkan Bis, seakan tak peduli pada obrolan kami, terus melaju untuk menghampiri setiap halte bagai lebah yang menghampiri setiap kuntum bunga.

“Emang sehari bisa dapat berapa?” ku mulai pembicaraan. Nampaknya aku mulai penasaran.
“Biasanya bisa sampe 50 ribu Bang. Tapi hari ini cuma 15 ribu..”
“Wah itu lumayan.” komentarku. Tak pernah terbayang sebelumnya kalau para pengamen bisa mendapatkan sebesar itu sebelumnya.
“Lumayan gimana Bang? 15 ribu seharian, buat pulang ke muara baru, saya kan tinggal di muara baru bang udah 5 ribu. Masa saya ngasih ke nyokap cuma 10 ribu doang?? Malu saya Bang..!”

Sesaat aku membeku mendengar jawaban yang menurutku terdengar klise namun naif. Aku tak tau harus berkomentar apa hingga akhirnya hanya senyum yang bisa ku keluarkan.

“Pernah Bang saya gak dapat dikit banget Bang… dari pada malu akhirnya saya beliin minuman Bang..”
“Lah, kok malah dibeliin minuman..?” Simpatiku tiba-tiba hilang.
“Yaaah… dari pada malu Bang.. Pas pulang saya dimarahin ama bokap Bang karena ga bawa duit..”
“Oya??” Ternyata aku terlalu cepat menilai pikirku. “Kok marah??”
“Na itu die Bang.. Emang anaknya itu siapa Bang.. Kan saya anaknya, harusnya kan saya yang minta duit, eh ini malah bokap yang minta.. Dia marah-marah besar Bang..” Wajahnya nampak bersungguh-sungguh saat menceritakannya.
“Pernah Bang, pas pulang dia marah-marah, tapi saya pas lagi mabok Bang.. Saya pukulin Bang akhirnya bokap gw..”
“Astaga!?” aku kaget. Sesuatu yang tak yakin bisa kudengar dari dia.
“Bener Bang.. Abisnya Bang saya kan marah… mabok lagi..”
“Jangan-jangan sekarang loe lagi mabok ya??” Sebenarnya dari awal aku sudah mencium bau anggur dari nafasnya. Dan dari awalpun aku selalu waspada kalau-kalau dia memang benar-benar mabok.
“Kagak Bang, sekarang saya lagi gak mabok Bang..”
“Jangan-jangan loe ga sadar nih ngomong?” Aku mencoba memastikan.
“Ya elah Bang, kalo ngobrol sekarang masih nyambung Bang.. emang sih tadi buat gitar ama nyanyi udah ga konsen, tapi ngomong masih sadar Bang..”
“Emang barusan minum berapa gelas?”
“Cuma tiga gelas Bang..”
“Kalo tiga gelas itu ga mabok ya?”
“Kagak lah Bang!”
“Emang berapa botol biasanya ampe mabok?”
“Waaah.. bisa 3-4 botol Bang baru mabok..!”

Entahlah, aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Dari awal saat kulihat siang kesatria itu menuju kursi disebelahku, perasaanku tak enak dan sikapku pun acuh. Kemudian kami terlibat dalam obrolan yang makin hangat. Dan dalam waktu singkat, ku dapatkan sebagian kisah hidupnya.

“mmmh.. harusnya loe ga boleh mukulin bokap loe kayak gitu..” aku mencoba memberi nasehat yang sebenarnya aku tak berharap dia mengerti.
“Abis Bang, dianya marah-marah pake mukul juga Bang.. Tapi abis itu kalo saya pulang mabok, dia ga berani marah-marah lagi Bang..”
“Oya..?” aku tak bisa menahan senyum..
“Iya Bang, makanya saya kalo pulang mabok dulu Bang..”
“Ya loe pergi aja lah kalo dia marah-marah..”
“Yah Bang, saya masih butuh tempat tinggal, masih perlu ganti baju, tidur..”
“Maksud gw, lo pergi bentar aja.. ntar juga selesai marahnya..”
“Wah ga mungkin Bang.. Bokap saya Bang, kalo udah marah lama… Abang tau kan orang jawa.. kalo udah marah luama Bang..!” Aku cuma bisa nyengir mendengarnya..

Tanpa terasa, bis 46 telah memasuki daerah tomang dan melaju pelan menuju Citraland.

“Gw turun citraland ya..” Aku mencoba mengakhiri obrolan hangat itu.

“Oh ya Bang..” walaupun nampak belum puas dengan obrolan, tapi sang kesatria itu mempersilahkan aku menuju pintu bis.
” Udah.. Jangan mabok terus yah…! Ga bagus buat kesehatan.. yah kalo segelas dua gelas ga apa apa lah biar ga dimarahin ama bokap lo.. OK..”
“IYA BANG!” jawabnya tegas.

Akhirnya, aku sudahi obrolan dengan sang kesatria itu dengan turun di Halte citraland. Sejenak aku menoleh ke arah bis yang telah kutinggalkan dan kulihat sang kesatria yang seolah mencari-cari sesuatu dari jendelah bis. Dan kulanjutkan perjalanan nostalgiaku dengan sebuah cerita.

——-
Tak ada warna mutlak..
yang kulihat adalah sebuah gradasi indah warna-warni..
tak ada merah tak ada kuning..
yang kulihat merah kekuningan ato kuning kemerahan..
——-

RSN-19/07/07-RSN

Siang..

Bayangan itu tak lagi panjang
menyusut bersama hangatnya siang
seakan membakar semua harapan yang datang

Kicau burung pun semakin riang
memadu canda menjalin rasa
karena ini adalah saatnya bercinta

Dan angin sepoi pun membawa berita
dari mereka yang berbahagia
menembus relung-relung jiwa

Entah mengapa
aku merasa bimbang
merasa hilang
mungkin karena hari semakin siang

RSN-16/06/07-RSN

Kisahmu masih misteri..

Duhai kau yang kukasihi…
Adakah dekapan hangat di dunia ini
yang mampu cairkan kata dari bibirmu?

Ataukah hanya api abadi di ujung bumi
yang sanggup lelehkan cerita dari hatimu?

Wahai kau yang slalu di hati..
Adakah bunga yang mampu wakili
merah biru ungkapan jiwa?

ataukah pelangi tak cukup memberi
pilihan warna segala yang kau rasa?

Oh kau yang kan slalu kusayangi…
Bahkan sampai detik ini…
kisahmu masih misteri

RSN-21/05/07-RSN

Spiderman..

Dua minggu menjelang premier sebuah film ber-budget besar hollywood, suasana dimana-mana dipenuhi dengan eforia kehebohan film tersebut. Dan tentu saja termasuk  beberapa anak muda yang kos di sekitar pancoran.
Bermula dari ajakan Dani yang tinggal di tangerang via telepon, Hasan mulai menebarkan draft-draft rencana untuk nonton bareng. Seperti sebuah pesan berantai, 6 orang pun mulai kasak kusuk. Dan rencana pun mulai dibuat.
Satu yang pasti, semua setuju. Masalah nya ada satu hal yang hampir tak terdapat titik temu. Tanggal nonton.
Dani yang memulai ide nonton bareng mengajukan tanggal premier. Hal ini didasarkan tidak hanya agar lebih menghayati suasana eforia tapi juga melihat schedule pekerjaannya yang nampaknya mengharuskannya meninggalkan Jakarta setelah tanggal premier tersebut. Lain lagi dengan Fajar yang pada saat itu sedang berada di Semarang. Sesuai schedule pekerjaannya, dia akan kembali ke jakarta setelah Premier!

Hasan sebagai penengah seperti mendapat dilema. Keduanya adalah teman dekat. Tak ingin salah satunya harus sakit hati karena merasa dicuekin. Sedangkan menurut Nanang, kapanpun itu tak menjadi masalah. Satu hal yang pasti buatnya, dia akan menunggu nonton film ini untuk pertama kali adalah bersama teman-teman dekatnya.
Akhirnya Hasan berkonsultasi dengan orang tersisa.
Acan yang memiliki saham kendaraan memilih menunggu Fajar dari semarang. Dui sebagai driver idem. Dan alhasil, nonton bareng akan diadakan setelah primier yang berarti tanpa keberadaan Dani sang pencetus ide.
Jadwal telah ditentukan tapi sebuah ganjalan masih tersisa. Siapakah yang akan mengatakan keputusan jadwal pada Dani?
Tak ada yang tega untuk mengatakannya. Bagaimana mungkin kita menyusun sebuah jadwal tetapi sang pencetus ide tak terakomodir dalam jadwal tersebut?
Akhirnya, Nanang adalah tumbal terbaik untuk mengatakannya pada Dani dengan pertimbangan kedekatan Nanang pada Dani yang melebihi teman-teman yang lainnya.
Nampaknya Dani menerima jadwal yang tersusun. Walaupun telah mengupayakan agar nampak se-legowo mungkin, namun mata tajam Nanang dapat menangkap gurat kekecewaan pada senyum yang dipaksakan tersebut.

Rencanapun di-eksekusi sesuai jadwal dengan hanya berlima. Walau Dui sempat tidur karena menurutnya Film action membuatnya selalu mengantuk dibandingkan film drama, nampaknya semua menikmati film tersebut. Beberapa bagian dibahas saat kepulangan. Mulai dari cerita bahkan sampai setiap detil scene tak lepas dari kritik.
Semua menjadi terdiam saat Fajar menerima telepon dari temannya yang disemarang. Suasana dalam kendaraan tersebut tiba tiba menjadi senyap hanya menyisakan suara Fajar diiringi suara radio sebagai latar.
Diskusi kembali dimulai saat Fajar menutup Telepon. Saat sebuah topik mulai dibicarakan tiba-tiba Nanang menjadi bengong. Melihatnya, spontan Acan pun bertanya hal aneh tersebut.
Nanang merasa heran ketika mendengar Fajar mengatakan sesuatu saat menerima telepon tadi. Nanang akhirnya bertanya pada Fajar. “Lo udah nonton ya di semarang?”.
Fajar tak menjawab “Ya” pun juga tak menjawab “Tidak”. Dia hanya terdiam.
Yang lain pun seperti kaget mendengar pertanyaan Nanang. Nanang memberi alasan bahwa dia mendengar Fajar mengatakan “nonton lagi” saat menerima telepon dari semarang.
Dengan bukti tersebut akhirnya Fajar pun mengaku benar adanya dia menonton untuk yang kedua kalinya. Semua seperti terbengong mendengar pengakuan tersebut. Hening. Hanya Dui yang masih konsentrasi menyetir.

Fajar yang melihat teman-temannya seperti melihat kerbau terbang tersebut menjadi serba salah. Dia berusaha memberikan alasan bahwa dia telah diajak teman-temannya di semarang dan tak bisa menolak. Sedangkan dia juga tak mungkin menolak ajakan teman-teman di jakarta. Akhirnya, demi menjaga perasaan, dia memutuskan untuk  menjaga rahasia bahwa dia telah menonton untuk yang kedua kalinya.
Semua masih terbengong. Fajar pun bertanya dengan perasaan penuh kebingungan. “Kenapa sih emang?”
Hasan pun angkat bicara. “Masalahnya kita udah melepaskan Dani agar orang jauh semarang bisa ikut nonton bareng..”
“Ya.. dan masalahnya lagi, ide nonton bareng ini dari Dani..” tambah Nanang.
“Dan ternyata yang kita tunggu sebenarnya telah nonton disemarang..” tambah Acan datar.
“Iya.. jadi ngerasa kasihan ama Dani..” Lanjut Dui.
Fajar menjadi merasa tidak enak. “Tapi..”
“Coba kalo elo bilang ke kita kalo elo udah nonton..” komentar Nanang.
“Iya..” tambah Acan.
“Masalahnya, aku gak enak kalo bilang udah nonton di semarang.” kata Fajar membela diri.
Tiba-tiba suasana menjadi senyap. Semua terdiam dalam alam pikiran masing-masing.
Yah.. ternyata terus terang tanpa rasa ewoh pakewoh akan lebih baik ya..” Gumam Dui tiba-tiba.
Semua membenarkan dan membiarkan kesunyian mengambil alih suasana dalam kendaraan menuju tempat makan.

Based on True story..

RSN-12/05/07-RSN

Halaman Berikutnya »



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.