Yang Tenggelam dan Padam

Kala itu, ia tergores indah di sana
Menebarkan kehangatan, keceriaan
Ia serap dengan hikmat
Ia pancarkan penuh ketulusan

Kala itu, ia berkedip cemerlang di sana
Menembus jiwa dan berkata ia ada
Ia pantulkan dengan empati
Ia rangkul sepenuh hati

Waktu berlalu, hanya singkat

Tak terlihat lagi goresan indah di sana
Tak ada lagi kedipan cemerlang di sana
Seperti mentari, ia tenggelam
Seperti bulan, ia padam

Yang hadir guratan dingin
Yang hadir bisikan bisu
Yang hadir keluh tak peduli

Dan aku bertanya
Kenapa
Kenapa
Kenapa

Semakin aku bertanya, semakin dingan
Semakin aku bertanya, semakin membisu
Semakin aku bertanya, semakin tak peduli

Waktu pun berlalu, terasa lama
Dan aku, belum tau jawabnya..

 

RSN – 06-06-2014

Segalanya tentangku

Saat kau melihatku
Itulah segalanya tentangku

Tak perlu kau cari yang ada dibelakangku
Tak perlu kau cari yang ada dalam genggamanku
Dan tak perlu kau cari apa yang menaungiku
Karena segalanya tentangku, apa yang ada di matamu

Saat kau mendengarku
Itulah semua isi hatiku

Tak ada yang kulebihkan, karena tak ada yang bisa kulebihkan
Tak ada yang kusembunyikan, karena tak ada yang bisa kusembunyikan
Tak ada yang kuperlihatkan, karena tak ada yang bisa kuperlihatkan
Apa yang kukatakan, itulah yang bisa kuberitakan

Saat kau nilai aku
Mungkin hanya menambah kecewamu

Saat kau cari keindahan, mungkin keburukan yang kau temukan
Saat kau cari kebahagiaan, mungkin penderitaan yang kau rasakan
Saat kau cari kemudahan, mungkin kesulitan yang kau dapatkan
Saat kau cari harapan, mungkin hanya itu yang bisa kuberikan

Dan jika kau tanyakan
Dengarlah, aku tak akan berhenti berjuang menggapai harapan

RSN-09-05-2013

Harapan Yang Manjadi Hampa

Sehari telah berlalu, namun suasana masih mencekam. Tak ada hingar bingar seperti biasanya. Tak ada tawa ceria. Bahkan tak ada suara yang bisa terdengar dari jarak tiga meter. Semua volume suara turun hingga yang terdengar hanya bisik-bisik. Suasana sungguh masih mencekam.

Aku berdiri mematung. Ada perasaan ngeri, namun rasa ingin tahu mendorongku tetap berdiri menatap pusat penebar hawa mencekam. Tak lebih dari empat meter di depanku. Dikelilingi garis polisi berwarna kuning, hawa mencekam mencapai titik tertinggi. Seolah keceriaan terhisap habis hingga yang tertinggal hanyalah kesunyian dan kehampaan.

Bagi beberapa orang, termasuk aku, penyebab hawa mencekam ini tak akan pernah terlupa. Ia akan tetap mengendap dan setiap saat dapat mengambang di pikiran. Muncul kembali seperti video yang diputar di sebuah bioskop tiga dimensi. Dan itu akan selalu membuatku ngeri.

Kemarin. Saat matahari di atas kepala dan saat penghuni sekolah tumpah ruah di luar kelas karena bel istirahat berdengung, tiba-tiba sesuatu meluncur jatuh dari atas. Menghantam pagar taman yang terbuat dari besi hingga terdengar suara berdebam dan robek. Seketika hiruk pikuk lenyap. Suasana menjadi senyap untuk sesaat. Namun beberapa detik kemudian, jeritan membahana saling bersahut. Orang-orang berlarian. Sebagian menjauh. Sebagian mendekat. Sedangkan aku, berdiri kaku tak beranjak. Aku gemetaran.

Hanya beberapa langkah dari tempatku berdiri, pemandangan mengerikan membuatku beku. Aku terlalu ngeri untuk berlari. Bahkan terlalu takut untuk bersuara. Seseorang baru saja mati di depanku!

Dia mengenakan seragam sepertiku. Wajahnya pucat melotot. Darah segar mengalir dari mulut. Dan tubuhnya menggantung di pagar, bertumpu pada perutnya yang robek tertembus besi. Di sekitarnya, warna merah mengalir pelan.

“Ber!”

Aku tersentak. Baru saja peristiwa mencekam itu kembali melintas di kepalaku. Aku terbangun dari lamunan.

“Ya?” sahutku pelan.

Fari menuju ke arahku dengan terburu-buru. Dari caranya melangkah, jelas sekali menghindari tatapan ke arah lokasi kejadian.

“Kita dipanggil Pak Siregar.” katanya singkat sambil melangkah menuju ruang kepala sekolah.

***

Tak seperti biasanya. Tak ada kata basa-basi dari Pak Siregar. Tak ada gurauan-gurauan khas logat batak. Wajahnya sangat serius. Dia hanya tersenyum dan mempersilahkan kami duduk kemudian menyodorkan selembar kertas berisi tulisan tangan.

“Ini adalah copy surat yang ditulis Aida sebelum dia menjatuhkan diri. Ditemukan di rooftop.” kata Pak Siregar.

Aku terdiam sesaat. Ada perasaan ngeri yang membuatku tak menggerakkan tangan. Hanya bola mataku yang menatap ke arah kertas. Namun berlahan, ku raih kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

Buat apa aku hidup. Aku terlahir di tempat yang penuh dosa. Membuatku terus dihina. Kata-kataku tak lagi ada artinya. Yang hina akan tetap hina. Rupanya harapan itu hanya omong kosong! Harapan itu kini menjadi hampa!

Yang kubaca hanyalah tulisan. Namun yang kurasakan, tulisan itu seakan berdenyut. Ia memiliki jiwa. Jiwa yang tersisa dari penulisnya. Dan itu makin membuatku ngeri.

Fari menoleh ke arahku. Ada perasaan ngeri yang sama terpancar dari matanya.

“Ee..” aku ingin mengatakan sesuatu namun tak tahu apa. Kutatap Pak Siregar bingung.

“Ternyata, masih ada budaya intimidasi, olok-olok dan saling ejek di sekolah ini.” kata Pak Siregar setelah menghela nafas panjang. Suaranya seperti keluhan.

Aku mengangguk setuju.

“Nah Ber. Saya ingin minta bantuan kamu sebagai ketua OSIS dan juga Fari, juga pengurus yang lain, untuk bersama-sama membersihkan budaya ini. Kejadian kemarin benar-benar telah merusak semua yang ada di sekolah ini. Tak cuma nama baik sekolah. Namun juga siswa yang belajar di sini.”

Aku terdiam untuk sesaat. Aku masih tak menyangka ada bullying di sekolah terbaik. “Apa yang bisa kami lakukan Pak?”

“Lakukan yang kalian bisa. Dan ingat, selalu komunikasikan dengan saya.”

“Baik Pak.”

“Bagus.” Pak Siregar menghela nafas panjang lagi. Keningnya mengkerut dan tangannya mengetuk-ketuk meja.  “Yah, itu saja. Kalian bisa kembali ke kelas.”

Kami mengangguk serempak dan berdiri.

“Oya, satu lagi.”

Kami menoleh bersamaan.

“Jangan buat pernyataan pada wartawan. Itu hanya akan membuat semuanya memburuk.”

Sekali lagi kami mengangguk bersamaan.

***

Tidak mudah menemui Sita. Dia mengunci diri di dalam kamarnya. Bahkan ibunya pun tak bisa membuatnya keluar. Aku harus membawa senjata pamungkas untuk menembus benteng yang dibuat Sita. Ku bawa Rian menemuinya.

Meski aku tahu akan berhasil, namun aku masih saja tak mengerti bagaimana Rian melakukannya. Padahal dia hanya mengucapkan salam, tersenyum dan menyapa. Hal yang sama persis kulakukan dua hari sebelumnya. Tapi hasilnya sangat berbeda. Sita keluar kamar dengan penampilan terbaik, meskipun sembab di bagian mata tak bisa berbohong. Dia sedang berduka.

Sita adalah teman dekat Aida. Bahkan mungkin satu-satunya teman Aida. Aku hampir tak pernah melihat Aida bersama orang lain selain Sita. Bahkan jika Sita tak ada, maka Aida lebih memilih untuk menyendiri.

“Hampir seminggu kamu gak masuk.” kata Rian membuka pembicaraan. “Kami ingin memastikan kamu baik-baik saja.”

Sita mencoba tersenyum. Sedikit aneh. Ada awan mendung di wajahnya, namun juga ada perasaan bahagia terpancar di sana. Dan inilah yang aku tak mengerti dari wanita. Bagaimana kata-kata biasa yang keluar dari mulut Rian seakan menjadi luar biasa? Bahkan bisa membuat orang yang berduka teramat dalam pun tersenyum.

“Kamu baik-baik aja kan?” lanjut Rian sambil melempar senyum yang dihiasi lesung di pipi.

Kini Sita benar-benar tersenyum. “Aku.. Aku baik-baik aja kok. Aku cuma..”

“Kamu akan baik-baik saja. Aku tahu itu. Kamu kan orang yang tegar.”

Mendengarnya, senyum Sita makin merekah. Kini dia nampak seperti semula. Seorang gadis yang ceria. Aku tak habis pikir, dari mana Rian belajar semua itu?

“Kamu gak harus menyimpan kesedihanmu sendirian. Kan ada teman-teman di sekolah.”

Tiba-tiba wajah Sita sedikit berubah. Ada perasaan marah tersulut.

“Aku tak suka di sekolah. Ada banyak orang munafik di sana.” Sita menunduk. Kedua tangannya saling meremas. Ada perasaan marah yang tertahan.

“Maaf. Maksudmu?” kataku mencoba masuk dalam pembicaraan.

Tiba-tiba Sita mendongak dan menatapku tajam. Dia melampiaskan amarahnya padaku. “Emangnya kamu belum tahu kenapa Aida bunuh diri?!”

Sesungguhnya aku sedikit tidak terima. Aku bertanya sehalus mungkin tapi Sita menjawabnya seolah akulah yang membuat Aida bunuh diri.

“Mungkin kamu benar Sita. Memang banyak orang munafik di sekolah. Bahkan mungkin aku termasuk di dalamnya.” Rian mencoba meredam amarah Sita.

“Bukan.”

Sita menoleh ke arah Rian. Namun dengan tatapan yang berbeda. Tatapan menyesal telah berkata terlalu keras.

“Bukan kamu tentu saja.”

Aneh pikirku. Aku yang dihardik, kenapa tatapan penyesalan ia arahkan pada Rian. Ini sungguh tidak adil.

“Mungkin Aida bukan orang suci. Bukan orang yang tak pernah berbuat salah. Tapi tidak seharusnya mereka selalu mengejeknya.” Sita berkata sambil tertunduk. Ada genangan air di pelupuk matanya.

“Mereka terus saja mengolok-olok Aida. Menyudutkan. Menjadikan Aida bulan-bulanan mereka. Hidup Aida sudah cukup menderita tanpa itu semua!”

Aku ingin bertanya, siapa yang di maksud dengan mereka tapi ku tahan. Ku senggol Rian.

“Memangnya, apa yang meraka katakan?”

“Mereka selalu bilang kalau Aida adalah pelacur!”

Sita tak lagi bisa menahan air mata. Ia menangis sesenggukan.

“Pelacur?”

“Entah dari mana mereka bisa membuat gosip murahan itu. Tiba-tiba saja mereka mengatakan kalau Aida menjual diri pada para hidung belang. Mereka selalu bilang kalau itu adalah penyakit turunan!”

Aku jadi teringat. Dulu memang Aida sempat diejek oleh teman-teman karena profesi ibunya yang menjadi pelayan di club malam. Namun kejadian itu sudah lama dan mereda setelah kepala sekolah turun tangan.

“Dan mereka itu..” Rian berhenti di tengah kalimat. Meminta jawaban.

“Siapa lagi kalau bukan Yuli dan genk-nya!”

***

“Kamu berhutang traktiran. Ingat itu ya.” kata Rian saat aku turun dari mobilnya. Dia nyengir gembira menampakkan giginya yang rapi. Dia sudah menggunakan kawat gigi sejak kecil.

“Orang kaya yang pelit!” seruku sebelum membanting pintu.

“Pelit itu pangkal kaya!” sahut Rian diikuti tawa saat kaca jendela terbuka. Dia sangat gembira seolah baru saja menang lotre. Aneh, apa yang membuatnya sesenang itu? Aku benar-benar heran.

Tapi pikiranku saat ini terfokus pada Aida. Setidaknya, aku kini telah mengetahui orang-orang yang membuat Aida tertekan. Tentu saja aku tak berani mengatakan mereka yang membuat Aida bunuh diri. Tak mungkin sesederhana itu. Tapi mengetahui bahwa bullying benar-benar masih ada merupakan informasi yang sangat berharga.

“Gimana Ber?”

Aku baru menyadari ada Fari yang kini berdiri di teras rumahku. Rupanya aku benar-benar terfokus pada pikiranku sendiri.

“Kamu sendiri gimana? Ada informasi?”

Ku letakkan tas di lantai dan duduk di teras. Fari juga duduk kemudian rebah menatap langit-langit.

“Rupanya kehidupan Aida di rumahnya, tak sedamai di sini.”

Aku menoleh, menatap Fari yang tiduran bertumpu pada kedua tangannya sebagai bantal. Tatapannya menerawang jauh. Emangnya dia gak takut masuk angin tiduran di lantai seperti itu, pikirku.

“Entah bagaimana mengatakannya. Tapi Ibunya seolah tak merasa kehilangan dengan kepergian Aida. Malah aku menangkap kesan, ia ingin mengatakan bahwa itu adalah hal yang terbaik buat mereka. Aku tak menyangka ada kehidupan seperti itu.”

Fari terdiam. Aku pun ikut terdiam. Aku mencoba mencerna kata-katanya. Itu membuatku ikut rebah di teras. Dan aku pun mengerti yang dimaksud Fari. Kehidupan Aida memang tak sedamai seperti di sini.

***

“Aku cuma mengatakan yang sebenarnya.”

Yuli mengatakannya sambil mengiris-iris somay di piringnya dengan gemulai.

“Lagian, kalau emang enggak, harusnya dia gak perlu tersinggung dong.”

Yuli terus saja bicara. Padahal aku hanya berkata bahwa Aida bunuh diri karena tertekan oleh ejekan-ejekan orang.

“Kamu tahu. Orang seperti dia yang membuat nama sekolah kita jadi buruk. Orang-orang akan menilai kalau sekolah kita ini sekolah pelacur!”

“Gak sejauh itu lah Yul.” aku berusaha agar dia tak terlalu berlebihan.

“Enggak gimana?” Yuli kini makin sewot. Dia terus saja ngomong meski sedang mengunyah siomay. “Tanteku saja sampai tahu. Dia bahkan menyarankan aku untuk pindah ke sekolah lain.”

“Tapi informasi itu kan belum tentu benar.” Fari menyela dengan nada yang agak tinggi. Kulihat sedari tadi dia berusaha menahan diri untuk tidak marah. Memang ada perubahan dari penilaian Fari terhadap Aida semenjak dia mengunjungi ibunya. Ada rasa empati yang besar.

“Dengar ya. Kita semua sudah tahu apa pekerjaan ibunya. Dimana dia tinggal dan bagaimana lingkungannya. Dari situ saja kita harusnya sudah tahu bagaimana Aida dibesarkan. Dan kalau kalian pikir dia tak tertular perilaku itu, kalian ini benar-benar naif sekali.”

“Kalian terlalu banyak nonton sinetron.” sahut Fari.

“Terserah apa kata kalian. Tapi aku cuma mengatakan hal yang sebenarnya.”

“Maksudmu kalau dia pelacur?” tanyaku.

“Iya.” Jawab Yuli yakin. “Semua orang juga tahu.”

“Dan kamu tahu karena kamu melihat sendiri.”

Yuli tak langsung menjawab pertanyaanku. Dia terdiam sesaat.

“Aku tak harus melihatnya sendiri. Lagian buat apa aku menguntitnya. Seperti tak ada kerjan saja.”

“Dan kamu masih yakin kalau dia adalah pelacur?”

“Tentu saja!” Yuli tersinggung. “Aku dapat informasi dari orang yang dapat dipercaya.”

“Orang yang dipercaya?” Fari tertawa. “Siapa orang kepercayaanmu itu?”

“Tanya saja sama Anton. Dia kan wartawan!”

Setelah mengatakan itu, Yuli diam. Dia tak lagi menganggap kami ada. Seolah seketika kami lenyap dari hadapannya.

Namun Dewi yang dari tadi diam, tak bisa menahan diri untuk bicara.

“Ngapain sih kalian ngeributin dia. Lagian dia sudah mati. Dan itu lebih baik buat kita. Juga buat dia.”

Brakk!

“Jaga kata-katamu!” Fari menggebrak meja.

“Kenapa kamu sewot gitu? Kamu pacarnya?”

Fari makin marah. Hampir saja dia melempar mangkuk yang ada di hadapannya jika saja aku tak sigap menahannya.

“Sudah Far. Sabar.”

“Huh, orang aneh dibelain orang yang aneh juga.” celetuk Dewi seperti tak puas menabur garam pada luka.

“Sudah. Cukup.” kucoba berkata sehalus mungkin agar situasi mereda.

“Ada hal-hal yang memang perlu diucapkan. Tapi ada juga yang lebih baik tetap disimpan meski sangat ingin diucapkan. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Bahkan Aida pun tak pernah tahu kalau dia akan bunuh diri.”

Setelah mengucapkan itu, ku ajak Fari meninggalkan kantin. Dari urat di pelipisnya yang menegang, nampaknya amarahnya belum mereda.

***

Ruang redaksi majalah sekolah sangat rapi. Mungkin ini adalah ruang paling rapi di antara ruang-ruang organisasi lainnya di sekolah. Sedikit kontradiksi menurutku. Ku pikir, wartawan adalah orang-orang yang super sibuk hingga tak akan sempat mengurusi ruangannya. Tapi Anton, ketua redaksi majalah sekolah, adalah orang yang sangat terobsesi dengan keteraturan.

Ruangan itu kini sepi tak seperti biasanya. Hanya Anton yang nampak sibuk menatap layar komputer. Dia tahu kedatanganku, namun hanya menoleh sambil lalu dan kembali ke kesibukannya.

“Aku tahu kamu mau tanya tentang Aida.” kata Anton saat aku beberapa langkah dari mejanya. Dia mengatakannya tanpa menoleh.

Ku tarik kursi dan duduk kemudian meregangkan tangan.

“Sepertinya Yuli sudah menemuimu lebih dulu.”

“Begitulah.” Anton masih sibuk dengan pekerjaannya.

Aku berdiri dan melangkah menuju dinding yang penuh dengan poster-poster sampul majalah yang pernah terbit. Yang terakhir, adalah sampul dengan foto Aida dalam warna hitam putih. Harus ku akui, pembuat sampul majalah itu sangat hebat. Ada suasana mencekam, misterius sekaligus bela sungkawa.

“Aku tak menyangka, wartawan juga suka menyebar gosip.” Kataku tanpa menoleh.

Meski tak melihatnya, aku tahu Anton menghentikan kesibukannya. Suara klik mouse tiba-tiba menghilang.

“Itu tuduhan yang berbahaya.”

Aku membalikkan badan dan menoleh ke arah Anton. Kini tatapan kami saling bertemu.

“Lalu, harus aku masukkan ke kategori mana isu tentang pelacur di sekolah ini? Fakta atau gosip?”

“Ada dua hal yang membuat tuduhanmu itu berbahaya. Buatmu tentu saja.” Anton menyandarkan badannya pada kursi.

“Pertama, aku tak pernah menerbitkan berita tentang.. apa yang barusan kamu sebut pelacur. Dan kedua, tuduhanmu itu sangat subjektif. Kamu melibatkan emosional pribadi atas kebencianmu pada wartawan.”

Ku tatap tajam Anton. Dia adalah orang yang sangat pandai bermain kata. Dia paling mahir merangkai kata. Bahkan dia pernah juara pidato di tingkat nasional.

Dulu Anton juga adalah calon ketua OSIS, pesaing utamaku. Hingga kini, aku masih tak mengerti bagaimana aku bisa memenangkan pemilihan. Aku bahkan tak pernah mencalonkan diri. Tiba-tiba saja namaku muncul dalam daftar calon.

Dan Anton jugalah satu-satunya orang yang tahu tentang kurang senangnya aku dengan orang yang berprofesi sebagai wartawan. Rupanya, saat pemilihan ketua OSIS, dia juga melakukan riset tentang aku dan keluargaku. Aku, terutama Ayahku, memiliki pengalaman buruk dengan wartawan. Ayahku pernah menjadi bulan-bulanan wartawan yang sempat membuat usahanya bangkrut.

“Ku pikir, kode etik wartawan berlaku pada setiap aktifitasnya. Tidak hanya pada saat penerbitan. Rasanya menyebarkan kabar yang belum dikonfirmasi kebenarannya, meskipun hanya diucapkan, adalah melanggar kode etik.”

“Melontarkan tuduhan tanpa melakukan konfirmasi, itu yang berbahaya.”

“Itulah kenapa aku kesini. Aku tidak sedang menyebarkan tuduhan. Aku sedang mencari konfirmasi.”

Anton tersenyum. Dia terdiam sambil tersenyum kemudian mengangguk-angguk.

“Sekolah ini tidak salah memilih ketua OSIS.”

Aku tak tahu apakah pujian itu tulus atau tidak. Tapi sesungguhnya, aku sangat mengagumi Anton. Dia sangat profesional dalam setiap pekerjaannya. Bahkan aku selalu merasa dibayang-bayangi kelebihannya itu. Aku selalu merasa dia lebih layak menjadi ketua OSIS dari pada aku.

Anton menegakkan tubuhnya. Kini dia duduk dengan sikap sempurna. Tangannya dilipat di atas meja.

“Baiklah. Ini konfirmasi dariku. Pertama, aku tak pernah mengatakan sama sekali kata ‘pelacur’ baik lisan maupun tulisan. Aku hanya pernah berkata bahwa, aku pernah melihat Aida di lobi hotel bersama seorang laki-laki berumur. Itu saja. Jika kemudian ada yang menterjemahkan bahwa Aida adalah pelacur, itu diluar kemampuanku untuk mengontrolnya.”

Aku menghela nafas panjang. Aku jadi teringat bagaimana Pak Siregar menghela nafasnya. Aku hanya merasakan sedikit beban ini, namun aku sudah merasa tertekan. Entah bagaimana rasanya menjadi Pak Siregar.

“Aku tak menyangka kamu suka menguntit orang.”

“Ah! Itu tuduhan berbahaya lainnya.”

Aku tertawa mendengarnya. Lama-lama aku tak bisa menahan tawa melihat cara Anton bicara. Dia benar-benar seperti seorang yang sudah lama bekerja. Seperti seorang profesional. Dia sama sekali tak mirip seorang siswa SMA.

“Itu adalah riset. Penulusuran!” wajah Anton sangat serius. “Tugas wartawan adalah mencari berita. Dan ketika mendapatkan berita, maka tugasnya adalah melakukan penelusuran untuk memastikan berita yang disampaikan adalah fakta. Bukan sebuah praduga.”

“Maksudmu, kamu mendapat berita kalau Aida adalah pelacur?”

“Bernito yang hebat, ingat! Saya tak pernah mengatakan kata itu.”

Aku diam menatapnya tajam. Aku menunggu penjelasannya.

“Aku mendapat kabar bahwa, saat ini, seks bebas adalah hal yang tak lagi tabu bagi anak sekolah. Bahkan tak terkecuali sekolah kita. Aku memulai dari situ. Dan akupun melakukan riset dan penelusuran.”

“Dan dari mana kabar itu datang?”

“Dari temanmu. Teman sebangkumu.”

“Maksudmu Hasan?” kataku sedikit kaget.

“Kamu tak perlu kaget seperti itu. Dan kamu tak perlu marah. Dia tidak mengatakannya dengan maksud menuduh. Kami hanya mengobrol, berdiskusi sedikit.”

Anton benar. Untuk sesaat aku marah karena ku pikir Hasan yang menyebarkan berita itu. Aku menghela nafas panjang. Bangkit dari tempat duduk dan menuju ke arah pintu.

“Terima kasih infonya.” kataku sambil membuka pintu. “Aku tahu tidak dalam posisi yang tepat untuk memberikan nasehat. Lagian, kamu terlalu hebat untuk mendapatkannya. Tapi mungkin ada baiknya untuk mengatakan hal-hal tepat pada orang yang tepat.”

Anton terdiam cukup lama. Entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya. Namun kemudian dia tersenyum dan bangkit berdiri.

“Kamu benar. Terima kasih.” Anton menganguk-angguk. “Sungguh. Kamu sangat benar.”

Aku malah jadi tak enak. “Maaf. Aku tak bermak..”

“Tidak-tidak. Kamu memang benar.”

Kini aku yang terdiam. Menatap Anton tajam untuk memastikan apakah dia tersinggung.

“Terima kasih.” kataku.

Entah bagaimana, tapi aku merasa yakin dia tulus mengatakan itu. Tak ada rasa tersinggung terpancar dari matanya. Dan itu menunjukkan kehebatannya. Profesionalismenya. Tak banyak orang hebat yang mau menerima nasehat dari orang lain. Itu menambah catatan kekagumanku padanya.

***

“San, ke kantin yuk.”

“Wah, tumben neh ngajak. Akhir-akhir ini, kalau gak di kelas kamu ngilang terus. Lupa ama teman.”

Aku tak menyangka Hasan berpikiran seperti itu. Tapi mungkin dia ada benarnya. Sudah seminggu lebih konsentrasiku habis karena kejadian bunuh diri Aida. Kesibukanku tidak hanya melakukan pencarian fakta, tapi juga membantu sekolah untuk memastikan proses belajar kembali normal. Termasuk di dalamnya membantu menangani wartawan yang mondar-mandir di sekolah.

“Maaf.” kataku sambil memberinya senyum. “Aku traktir deh.”

“Yes! Kalau gitu, ayo.”

Satu hal yang membuatku senang duduk sebangku dengan Hasan adalah keceriannya. Dia adalah orang yang tak pernah bersedih terlalu berlebihan, marah terlalu lama dan tak pernah menyakiti orang lain.

Dan itu membuatku sedikit bingung memulai pembicaraan tentang Aida. Aku tak ingin berkesan menuduhnya.

“Maaf San, aku sibuk karena.. kamu tahu lah. Masalah Aida.”

Hasan mengangguk. Mulutnya penuh dengan Mie Pangsit, jadi dia tak bisa bicara.

“Jadi gimana hasilnya?”

Bullying.” kataku singkat.

Bullying?” Hasan keheranan. “Masih ada gitu di sekolah kita?”

“Begitulah”. Aku diam. Aku ingin menuntaskan penelusuranku namun bingung harus mulai dari mana.

“Oya, kapan terakhir kamu ngobrol sama Anton?”

Hasan menghentikan suapannya. Kini dia menatapku curiga. Aku jadi merasa tak enak. Sepertinya dia tersinggung.

“Maksudmu, Anton yang melakukannya?”

Aku tertawa. Aku berpikir terlalu jauh rupanya.

“Bukan-bukan.”

“Oh. Aku pikir juga bukan. Kamu tahu kan? Anton adalah orang yang profesional. Tak mungkin dia melakukan itu.”

“Ya tentu saja.” Aku setuju. Sangat setuju.

“Ah ya. Terakhir aku ngobrol sama Anton itu dua bulan yang lalu. Dia orangnya sibuk banget. Susah bisa ngobrol sama dia. Padahal, seru ngobrol sama dia.”

“Kamu benar. Memang seru ngobrol sama dia.”

“Waktu itu kita ngobrolin tentang seks bebas!” Hasan tertawa terkekeh.

Aku ikut tertawa. Bukan menertawakan obrolan mereka. Tapi Hasan sangat lucu bila sedang tertawa. Matanya tiba-tiba menghilang.

“Dia antusias banget waktu ku bilang, ada survei yang mengatakan 50% anak sekolah melakukan seks bebas. Kayaknya dia mau melakukan riset atau apa gitu.”

“Kamu bilang begitu?”

Hasan tiba-tiba terdiam. Dia mencoba mengingat-ingat kembali.

“Ntar dulu. Bukannya waktu itu kamu yang bilang begitu. Katamu, ada berita di koran yang melakukan survei. Malah kamu yang bilang kalau bisa saja hal seperti itu terjadi di SMA kita. Iya kan? Aku cuma menyampaikan apa yang kamu katakan.”

“Aku yang bilang begitu?”

Hasan tak menjawab. Dia hanya mengangguk karena mulutnya kembali dipenuhi Mie Pangsit.

Tiba-tiba suasana menjadi hening. Aku seperti menyusut dan sekelilingku menghilang. Dan tiba-tiba terdengar suara. Suaraku sendiri yang sedang membaca koran. Suara itu memenuhi rongga kepalaku. Dan itu menyadarkanku. Yang dikatakan Hasan benar. Aku pernah mengatakan itu.

Seketika aku menjadi lemas.

Aku tak menyangka penelusuranku bermuara pada diriku sendiri.

Aku sama sekali tak terpikir bahwa kata-kata singkat itu berujung pada suatu hal yang besar. Sesuatu yang berkaitan dengan hidup dan mati. Dan kata-kata itu ternyata berasal dari mulutku sendiri.

Tentu saja, keputusan Aida bukanlah semata didasarkan pada ejekan-ejekan yang ia terima di sekolah. Semua kejadian dalam hidupnya saling terjalin dalam membentuk keputusan nekatnya. Keputusan untuk mengakhiri penderitaannya.

Namun satu pertanyaan yang membuatku kini merasa lemas.

Kenapa di sekolah? Kenapa dia melakukannya di sekolah?

Mungkinkah di sekolah adalah harapan terakhirnya, yang ternyata telah menghianatinya? Harapan yang menjadi hampa?

******

Sampai Tetes Terakhir

“Hebat kamu Fan,” kataku saat ku lihat Arfan menyelesaikan suapan terakhirnya.

“Hah?” Seketika Arfan menoleh ke arahku, sedangkan mulutnya masih sibuk mengunyah. Dia pun langsung mempercepat kunyahan dan menelannya. “Apanya yang hebat?”

“Tuh,” Ku tunjuk piringnya dengan bibirku, sambil ku dorong piringku hingga berdekatan dengan miliknya. “Rumah makan ini tak perlu tukang cuci piring, kalau semua tamunya sepertimu.”

“Ha ha ha, kira-in apaan.” Dia cuma tertawa singkat dan sibuk membersikan mulutnya dengan tisu.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama aku melihat, betapa bersih piringnya setelah makan. Tak ada satu butir nasi pun tersisa. Lama-lama, aku tak tahan juga untuk tidak berkomentar.

Bahkan saat makan ikan sekalipun, hampir-hampir tak ada lagi bagian daging ikan itu yang bersisa kecuali tulang-tulangnya. Bersih, benar-benar bersih.

Aku menatapnya lekat, menunggu penjelasan atau pembelaan atas komentarku.

“Hah?” dia heran saat sadar aku terus menatapnya. Rupanya dia tak menyangka aku membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Saat melihat ekspresi penasaranku, dia pun tersenyum. “Mungkin, karena kebiasaan kali ya?”

Jawabannya malah sebuah pertanyaan.

“Maksudnya?” ku jawab pertanyaanya dengan pertanyaan lagi.

Dia malah kelihatan keheranan. Mungkin dia pikir, pertanyaanku tadi bukan pertanyaan penting. Tapi aku sudah terlanjur penasaran. Pokoknya, harus ada penjelasan yang masuk akal!

Dia tersenyum. Dan aku juga faham arti senyumnya. Arfan adalah sahabat karibku. Dan dia adalah orang yang paling faham tentang ku begitu juga sebaliknya. Dan dia tau, jika sudah penasaran, maka aku akan berubah menjadi orang menjengkelkan sebelum rasa penasaran itu hilang. Dan senyumnya itu sesungguhnya mewakili kalimat: kumat lagi dia!

“Dulu,” akhirnya dia memulai penjelasannya setelah menarik nafas agak panjang. “Waktu masih kecil, setiap kali minum susu, Bundaku pasti akan cerewet tentang satu hal. Dia selalu memintaku untuk menghabiskan susu ku sampai habis sehabis-habisnya.”

Sesaat, matanya melihat ke arah langit-langit, seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu.

“Bahkan sampai tetes terakhir!” lanjutnya tiba-tiba sambil menatapku tajam. Dia tersenyum lagi.

Aku diam, persis seperti anak kecil yang sedang mendengarkan dongeng kancil dan buaya.

“Namanya juga anak kecil, aku selalu saja tak menghiraukan perintah Bunda.” lanjutnya dan diakhiri dengan tawa ringan. “Dan hebatnya, Bunda tak pernah bosan untuk memintaku menghabiskan susu ku.”

“Lambat laun, aku pun akhirnya mengikuti perintah Bunda. Aku habiskan susu ku hingga tetes terakhir.” Tutupnya sambil menunjukkan ibu jari dan telunjuk yang berdempetan padaku.

Aku masih diam menatapnya lekat.

Dia melirikku dan tersenyum lagi. Menarik nafas panjang dan melanjutkan. “Sejak itu, aku mulai terbiasa untuk menghabiskan semua makanan sehabis-habisnya.”

Dia memberikan jeda panjang. Aku mengangguk-angguk.

“Uda!” seru Arfan pada pemilik warung setelah memastikan aku tidak bicara lagi.

Aku hendak mengeluarkan dompet, tapi ternyata kalah cepat dengan Arfan yang sudah terlebih dulu menyerahkan uang seratus ribu ke pemilik warung.

“Hmm.. Emangnya, kamu gak berusaha nanya alasannya?”

Aku memanfaatkan waktu tunggu dengan sebuah pertanyaan lanjutan. Sekali lagi, dia tersenyum lepas. Senyumnya kali ini, terjemahannya adalah: belum sembuh rupanya!

Dia hendak mengatakan sesuatu, tapi urung karena Uda datang lagi membawa uang kembalian.

“Terima kasih Da,” Seru Arfan yang dijawab lambaian tangan oleh Uda yang sekarang sibuk melayani tamu lainnya.

“Hmm.. Abis ini, kamu ada acara nggak?” Tiba-tiba Arfan mengajukan pertanyaan di luar isi pembicaraan tadi.

“Enggak, kenapa emangnya?” jawabku sambil mengikutinya keluar rumah makan.

Dia berhenti dan menoleh ke arah ku.

“Temen-in aku yuk.”
“Kemana?”
“Udah, ikut aja. Gimana?”

Aku cuma mengangguk. Lagian, aku kan numpang motornya.

Kebetulan, kami kos ditempat yang sama. Dan jika jadwal kuliah kami bersamaan, aku bisa hemat ongkos angkot, plus punya ojek pribadi!

Kalau dipikir-pikir, Arfan itu orang yang sedikit nyeleneh menurutku. Yang ku tahu, ayahnya adalah seorang pejabat daerah. Tapi anehnya, dia memilih kos di tempat yang sama dengan kos ku. Kos murah meriah.

Dan saat bertemu ayahnya, aku malah tak menyangka dia seorang pejabat. Kalau saja waktu itu tidak ada Anton, mungkin aku akan mengira ayahnya cuma pegawai biasa.

Ternyata, ayah Anton adalah bawahan ayahnya Arfan!

Anehnya, kalau Arfan memilih kos sepertiku, Anton malah disediakan sebuah apartemen dan sebuah mobil Jazz keluaran terbaru oleh ayahnya.

Arfan emang nyeleneh!

…………..

Jam tanganku menunjukkan pukul 16.05 saat motor yang kutumpangi berhenti di halaman rumah yang bertuliskan Panti Asuhan Al-Amin. Cukup jauh juga. Satu jam lebih perjalanan yang telah ku tempuh, sudah termasuk macet.

Tempat yang ku kunjungi, berada di dalam gang yang hanya cukup satu mobil. Halamannya cukup luas dan ditanami rumput. Dua pohon besar berdiri disudut-sudutnya, membuatnya terasa sejuk.

Kulihat Arfan melepas helm-nya, dan masuk ke dalam rumah. Aku mengikutinya.

Rumah itu rumah lama. Pendek dan dindingnya agak kusam. Tapi saat masuk didalamnya, udara tidak panas layaknya rumah-rumah pendek. Mungkin karena dua pohon besar didepan yang memayunginya.

Beberapa foto terpampang di dinding, yang dibeberapa tempat cat-nya telah mengelupas. Di kiri, sebuah sofa butut dan beberapa kursi kayu tersusun rapi. Sedang di sisi kanan, terdapat sebuah meja dan monitor komputer diatasnya. Di depan meja itu, ada sebuah kursi yang saat ini diduduki oleh Arfan.

Aku berdiri di belakangnya sambil tengak-tengok melihat sekeliling.

“Assalamu’alaikum, Mas Arfan. Udah lama nunggu ya?”

Seorang wanita berjilbab muncul dari balik pintu yang ditutupi korden dan langsung menyapa ramah pada Arfan. Mereka seperti telah akrab satu sama lain.

“Wa’alaikumsalam, enggak juga Mbak Nisa. Ini baru nyampe kok,” Arfan berdiri sambil memberikan dua tangan yang dirapatkan. Seperti hendak bersalaman, namun tak bersentuhan.

Tak lama, Arfan langsung mengaduk-aduk isi tas-nya dan mengeluarkan amplop putih.

“Ini Mbak, untuk bulan ini.” ia menyerahkan amplop putih. Sedangkan wanita yang dipanggil Mbak Nisa, mulai sibuk mengetik di komputer. Tak lama, ia memberikan kertas, seperti tanda terima, kepada Arfan setelah sebelumnya ada doa-doa.

“Mas Arfan mau langsung atau mau nengokin anak-anak dulu?” tanya Mbak Nisa sambil merapikan komputer.

“Anak-anak lagi sibuk enggak Mbak?”
“Baru aja mereka selesai belajar.”
“Hmm.. Kalo gitu, nengokin dulu deh.”

Arfan memberi isyarat padaku untuk mengikutinya. Mbak Nisa membawa kami masuk ke belakang.

Ternyata, Panti Asuhan ini cukup luas. Keluar lewat pintu belakang ruangan tadi, yang rupanya adalah kantor, ada rumah memanjang yang saling berhadapan. Diantara rumah itu, ada celah yang mirip taman. Ada banyak tanaman disana. Bukan bunga, tapi tanaman seperti cabe, terong dan lain-lain.

Di ujung, dua rumah yang berhadapan tadi bertemu dan terdapat ruang terbuka seperti aula. Atau mungkin juga Mushola.

“Ada Kak Arfan!” Teriak seorang anak dengan tiba-tiba yang membuatku kaget.

Dan hanya dalam hitungan detik, puluhan anak-anak kecil sudah berkumpul mengelilingi Arfan dan berebut untuk bersalaman. Semuanya anak laki-laki. Mungkin, ini adalah panti asuhan untuk anak laki-laki.

“Kak Arfan kemana aja?” seorang anak berkepala cepak bertanya sambil bergelantung di tangan Arfan. Belum juga dijawab, anak lain sudah mengajukan pertanyaan. Mereka nampak begitu manja terhadap Arfan, layaknya anak pada bapaknya.

“Kak Arfan, main bola yuk.” seorang anak yang paling tinggi tiba-tiba muncul membawa bola kaki. Yang lainnya langsung bersorak setuju.

“Baim tanya dulu sama Kak Irwan, udah boleh belum?” jawab Arfan sambil mengangkat salah satu anak terkecil dan menggendongnya. Ada ingus di hidungnya yang langsung di lap oleh Arfan dengan tangannya.

Serempak, semua anak langsung menoleh ke arah laki-laki berkumis tipis yang dari tadi nampak tersenyum. Dia mengangguk.

Seketika semua anak berlompatan sambil berteriak hore dan berlari menuju halaman depan.

Sambil menggendong anak terkecil, Arfan pun mengikuti mereka setelah memberi isyarat padaku untuk mengikutinya. Aku cuma bisa diam, bengong dan keheranan dengan semua yang ku lihat.

“Adik-adik!” seru Arfan ke arah anak-anak yang sudah berkumpul dihalaman depan. Mereka langsung diam. “Kak Arfan sekarang bawa teman yang jago main bola. Jadi, kali ini Kak Arfan pasti menang.”

Tiba-tiba semua mata kini mengarah kepadaku. Aku jadi kikuk, serba salah dan cuma bisa tersenyum sambil melambaikan tangan.

“Kenalin dulu, ini Kak Hari.” kata Arfan lagi.

Tanpa kusangka-sangka, semua anak kini menyerbuku dan berebutan untuk meraih tanganku dan menempelkannya ke kening.

Aku jadi merasa tersanjung. Tidak pernah aku menerima sambutan seperti ini sebelumnya.

“Kak Hari, main sama saya Kak. Sebelah sini.” salah satu anak tiba-tiba menarikku.

“Enggak Donk, Kak Hari main sama kita disini.” tangan kiriku kini juga ditarik.

Arfan nampak tersenyum puas melihatku jadi bulan-bulanan anak kecil.

“Sudah-sudah, Kak Hari main sebelah sini, Kak Arfan main sebelah sana.” Arfan akhirnya turun tangan untuk melerai. “Siapa yang ikut Kak Arfan?”

Mereka memang sangat aktif, dalam hitungan detik, kini berkumpul dua kelompok. Lima anak di sisiku dan lima lagi bersama Arfan. Sisanya nampak cemberut menunggu di pinggir.

Tak lama, aku pun akhirnya berlarian berebut bola bersama anak-anak. Aku melepas kemejaku agar tidak kotor karena baru beberapa menit berlari, aku sudah sempat terjatuh.

Anak-anak itu sangat bersemangat. Mereka begitu senang dan tertawa lepas. Suara teriakan minta operan berkali-kali terdengar. Dan saat gol, mereka merayakannya layaknya pemain bola profesional.

Karena semangatnya, bahkan ada yang tak mau diganti sama sekali. Dan seperti biasa, setelah Arfan turun tangan, semua pun kembali ceria.

“Anak-anak!” teriakan Kak Irwan membuat permainan terhenti. “Sudah hampir Magrib. Ayo, sekarang waktunya mandi.”

Waktu ternyata sangat cepat berlalu. Matahari kini telah condong di barat. Sembunyi diantara awan-awan hingga meninggalkan mega kemerahan. Permainan pun selesai dengan skor 7:2 untuk tim ku.

Kak Irwan tak perlu berkata dua kali. Anak-anak dengan sendirinya kembali ke dalam dan sudah membuka kaosnya. Aku dan Arfan mengikuti mereka dari belakang. Kulihat Arfan tersenyum senang ke arahku.

“Siapa yang mau dimandiin sama Kak Arfan?” tiba-tiba Arfan berseru yang langsung disambut anak-anak dengan mengacungkan jari.

“Baim, kamu sudah besar. Masa masih minta dimandiin sama Kak Arfan. Sudah gak boleh.” Mbak Nisa tiba-tiba muncul dari belakang. Baim langsung cemberut.

Tak lama, Arfan sudah sibuk menggosok punggung beberapa anak kecil berumur sekitar 7 tahunan. Sesekali mereka saling bermain air dan juga berseru kedinginan.

“Mas Hari, mandi dulu. Anak-anak sudah selesai tuh.” Aku sedikit kaget saat Mbak Nisa tiba-tiba memanggil namaku sambil membawa handuk bersih dan sabun.

Aku langsung masuk ke salah satu bilik yang kosong.

Saat aku selesai mandi, Azan berkumandang. Kulihat Fahri, salah satu anak tim bolaku tadi, nampak berdiri di aula. Ia mengumandangkan azan dengan merdu. Sedangkan anak-anak lainnya sudah duduk berderet rapi.

Tiba-tiba, seseorang menggamit tanganku dan menarikku ke Mushola. Waktu kulihat, Rifa, salah satu tim ku juga, nampak tersenyum lucu. Memamerkan dua giginya yang besar.

Mereka cepat sekali akrab.

Selesai sholat dan doa, anak-anak kini membuat formasi melingkar. Ada empat lingkaran dan aku ada disalah satu lingkaran.

Beberapa anak, sepertinya sedang piket, membawa tumpukan piring dan makanan. Mereka membagikan ke masing-masing anak. Aku mendapatkan satu. Sebuah piring plastik berwarna hijau.

“Walna-nya sama.” kata seorang anak tak jauh dari tempatku duduk sambil menunjuk ke arah piringku.

Aku tersenyum. “Iya,” kataku yang disambut kekehan ringan anak kecil yang mungkin berumur 5 tahun itu.

Selesai berdoa, masing-masing menyodorkan piring ke arah Mbak Nisa dan seorang Ibu yang sepertinya seorang juru masak.

Mereka makan sangat lahap. Padahal menunya sangat sederhana. Nasi, sayur lodeh, tempe, tahu dan ikan asin.

Mungkin aku bukan anak orang kaya, tapi sehari-hari, setidaknya ikan segar atau daging ayam pasti tersaji di meja makan. Tapi hari ini, dengan menu seadanya itu, aku pun ikut lahap menghabiskan semua makanan di piring.

Saat ku lirik Arfan, dia malah sebaliknya. Tak seperti biasa yang selalu lahap saat makan, sekarang dia malah begitu santai dan pelan.

“Kak Nisa, Anas boleh nambah?” tiba-tiba seorang anak, mungkin berumur 6 tahun, duduk tegap sambil menyodorkan piringnya yang kini sudah sangat bersih.

Mbak Nisa yang dari tadi duduk di sudut bersama Ibu juru masak, langsung menghampiri Anas dan memeluknya.

“Hmm.. Besok, Kak Nisa dan Bu Sur akan masak yang banyak dan enak, dan Anas boleh nambah sepuasnya. Yah.”

Anas mengangguk, meski ada gurat kekecewaan.

“Eh, punya Kak Arfan belum habis nih,” tiba-tiba Arfan berdiri dan menghampiri Anas. “Anas mau?”

Anas mengangguk dengan senyum merekah. Aku baru mengerti, kenapa Arfan sengaja melambatkan makannya. Aku jadi merasa tidak enak telah makan sangat lahap.

“Yang lain ada yang mau juga?” Arfan menyapu seisi ruangan dengan matanya.

Beberapa anak nampak menyodorkan piringnya. Sedangkan mereka yang sudah besar, meski nampak masih lapar tapi enggan untuk minta.

Mbak Nisa kelihatan tak enak hati. “Maaf loh Mas Arfan, perkiraan masaknya tadi ternyata salah.”

“Bukan salah kok. Tapi adik-adik tadi terlalu bersemangat main bola-nya. Ya kan?” Arfan melemparkan pandangan ke sekeliling.

“Iya. Abisnya seru.” sahut Fahri.

“Iya.. Ada Kak Hari, jadi seru. Dia jago banget main bolanya.” sahut Baim lagi.

Aku kaget saat namaku jadi topik pembicaraan. Ruangan pun jadi riuh. Mereka saling berbagi cerita.

“Kak Arfan, kalah jago sama Kak Hari. Kak Arfan gak pernah menang.” kata Rifa yang duduk disebelahku sambil tertawa lepas. Seketika, semuanya tertawa riuh.

……

Selepas Isha’, Arfan dan aku berpamitan. Anak-anak menyalami kami satu persatu dan langsung berkumpul lagi untuk belajar. Mas Irwan yang ramah dan selalu tersenyum itu, kini sibuk berkeliling menghampiri mereka satu per satu.

“Tidak apa apa, tidak usah diantar.” sergah Arfan saat Mbak Nisa hendak mengantar kami ke depan. “Mas Irwan udah kerepotan tuh.”

Kami pun akhirnya keluar ruangan hanya berdua. Arfan mendorong motor bebeknya sedangkan aku mengikutinya sambil membawa helm.

“Oya Ri. Kamu tadi, waktu dirumah makan, nanya sesuatu kan?” tiba-tiba Arfan menoleh ke arahku. Dia meraih helm dari tanganku dan memakainya.

“Hmm,” aku lupa.

Arfan cuma tersenyum.

“Pernah apa enggak, aku tanya alasan ke Bunda, kenapa aku harus menghabiskan susu sampai tetes terakhir.” Arfan mengulangi pertanyaanku siang tadi.

Aku tak menyangka Arfan masih mengingat pertanyaanku. Awalnya, kupikir dia sudah lupa.

“Kamu tahu?” lanjut Arfan sambil menaiki motor. “Bunda tak menjawab dan cuma tersenyum.”

Ada jeda sesaat dan Arfan melanjutkan lagi. “Tapi besok pagi-nya, ayah mengajakku ke tempat seperti ini. Ke Panti Asuhan.”

“Oh ya?,” cuma itu yang keluar dari mulutku.

Arfan tersenyum lepas. “Seharian aku bermain dengan anak-anak panti asuhan. Mandi bersama dan juga makan bersama.”

Arfan menengadah ke langit. Aku pun secara reflek mengikutinya. Kulihat bintang dan bulan nampak berkilau. Hari ini sangat cerah.

Tak lama, Arfan melanjutkan ceritanya. “Dan saat pulang, ayah bertanya padaku. Jadi.. Kamu tahu jawaban pertanyaanmu ke Bunda kemarin?”

Arfan terdiam sesaat. Menghela nafas panjang dan melanjutkan. “Aku cuma mengangguk. Aku tak bisa mengatakan apa jawabannya, aku cuma bisa mengerti apa jawabannya.”

Suasana jadi hening.

Aku terpaku dengan semua cerita Arfan. Aku cuma bisa diam. Tiba-tiba aku seperti terbang ke masa lampau. Berubah menjadi Arfan kecil. Dan mengangguk seperti yang dilakukan oleh Arfan kecil.

Aku tak bisa mengatakan apa jawabannya, Aku cuma mengerti jawabannya, kataku dalam hati.

“Hei!”

Aku kaget saat Arfan memanggilku. Aku langsung tersadar dari lamunan.

“Kok malah bengong? Kamu mau nginap disini?” Arfan tersenyum puas.

Aku langsung memakai helm dan naik ke motor. Dan tak lama, angin malam pun menerpa wajahku sedangkan bulan seperti mengawasi kami dengan sebuah senyum merekah.

Ilmu..

Sore itu sungguh tenang dan hangat, sehangat jiwaku. Terlebih lagi jika ku ingat kejadian seminggu yang lalu, kejadian yang hampir saja melepas nyawa dari ragaku ini, membuat sore itu jadi semakin hangat melebihi hari-hari yang lalu. Dibuai angin sepoi dan mega emas, kukenang kembali hari itu, hari yang menjadi awal kehebohan yang akan terjadi sore nanti.

Kejadian itu masih jelas tergambar di mata. Dengan riang ku bawa alat pancingku seperti biasa menuju sungai agak jauh di belakang rumah. Memang aku terbiasa memancing setiap sabtu sore di sungai yang tak terlalu besar itu. Kucari tempat biasa aku memancang pancing tapi sayang, tempat itu kini beraliran deras. Aneh, pikirku, tak seperti biasanya.
Akhirnya kususuri pinggir sungai mencari tempat yang lebih tenang, tempat yang paling disukai ikan. Cukup lama hingga ku temui tempat itu, tempat yang luar-biasa. Aku langsung bersiap dan kulempar kail tapi…
Tempat itu ternyata licin hingga kakiku tergelincir. Sepontan ku coba raih kayu disekitar sebagai pegangan, namun ternyata kayu itu lapuk dan patah. Begitu cepat tubuhku terperosok dari tempat yang cukup curam dan menggelinding jatuh menuju air. Aku berusaha mengepakkan tangan dan kaki seperti burung namun semakin lama tubuhku semakin tenggelam. Aku baru sadar aku tak bisa berenang!

“Toloooong!!” tanpa tersadar aku berteriak sekuat tenaga disertai semburan air yang mulai masuk ke mulut. Aku masih terus berusaha untuk meronta agar terus mengambang, namun tak lama dan berlahan semua menjadi gelap dan perutku terasa penuh.
Samar namun pasti, tubuhku melayang seperti terbang ke atas. “Ah, sudah matikah aku? Kemanakah aku akan pergi, ke surga atau ke neraka?” hatiku berkecamuk. Tubuhku terasa terus terangkat hingga permukaan bahkan mengambang diatasnya, namun lemah hingga mataku tak mampu ku buka lebar agar tahu surga atau nereka kah kini berada.

Pelan kudengar suara memanggil namaku, seperti dari kejauhan. “Bud…, Budi…,” Dan semakin lama semakin jelas. “Ah, suara pak Kyai!” hatiku berseru. “Ah, mengapa suara pak Kyai ada disini? Apakah pak Kyai juga sudah disurga?” pikirku dalam hati.
Berlahan mataku mulai bisa kubuka dan silau. Berlahan pula bayangan pak Kyai hadir dihadapku.
“Pak Kyai?” seruku cepat. “Kenapa pak Kyai ada disini?”
“Tenang Bud, tenang… Memang kenapa kalo Bapak disini?”
“Tapi.., pak Kyai belum.. belum..,”
Ia tersenyum, “Tentu saja Bapak belum mati, kamu juga belum kok!”
Aku bingung bercampur lega. Dengan lembut pak kyai membopongku yang masih lemah dan mengantarku pulang. Tapi, kuat juga pak Kyai mampu mengangkatku dan anehnya bagaimana pakaiannya tidak basah jika tadi ia menolongku dari air. Yah, pakaian putihnya masih kering!

***

Matahari semakin condong ke barat, bayangan pohon tepi sungai mulai menutupi permukaan air sungai yang kini cukup deras. Tempat yang biasa sepi dan hanya dilalui para pencari ikan itu kini ramai seperti pasar adanya. Orang-orang berduyun-duyun, Bapak-bapak, Ibu-ibu, remaja juga anak-anak bercampur memadati pinggir sungai. Semua menanti dengan tak sabar kedatangan seseorang, seseorang yang terus saja disebut-sebut orang yang kini berdiri di pinggir sungai sambil berkacak-pinggang. Pakaiannya serba hitam dengan tutup kepala hitam pula. Kumisnya lebat dan paras mukanya nampak begitu angker. Ia dikenal sebagai Ki Golang, dukun setempat yang ditakuti. Berkali-kali ia menyumpah dan berteriak-teriak.
“Mana Kyai Mullah! Jangan-jangan ia takut ketahuan kalo ilmunya tak ada seujung jariku!”.
Berkali-kali sambil hilir mudik ia berteriak.
Aku yang sedari tadi ada situ merasa tak enak. Yah bagaimana aku bisa tenang bila kejadian ini berawal dari diriku, dari mulutku ini yang yang terlalu lancang. Walaupun setahuku aku hanya bercerita pada dua orang temanku, toh cerita itu semakin menyebar cepat melebihi kecepatan suara.
Cerita pun semakin tak utuh dan semakin besar, bahkan cerita terakhir sungguh menjadi sebuah cerita layaknya legenda. Katanya pak Kyai bisa berjalan diatas air! Meskipun aku yakin pak Kyai mampu untuk melakukannya, tapi aku berani bersumpah aku tak bercerita seperti itu!”

Orang-orang semakin ramai berbisik seperti dengung tawon dan tiba-tiba menjadi senyap saat sebuah langkah menuruni jalan setapak. Sosok yang berwibawa dengan jenggot yang mulai memutih sungguh serasi dengan pakaiannya yang putih bersih. Ia berjalan dengan berlahan namun pasti, diikuti pandangan orang-orang yang penuh dengan terkaan juga perkiraan.

“Nah, datang juga akhirnya! Kupikir pak Kyai takut untuk kemari?” Sapa ki Golang sinis.
“Hanya Allah yang patut ditakuti ki Golang,” jawabnya bijaksana “Nah, saya mohon maaf telah terlamabat, karena tadi ada orang yang minta tolong.”
“Ha ha ha, baguslah, ku pikir engkau takut Pak Kyai!”
“Hanya Allah yang patut ditakuti ki Golang,” sekali lagi Kyai menjawab dengan jawaban yang sama “Nah, sekarang ada apa sebenarnya sampai harus mengundang orang sebanyak ini?”
“Ha ha ha jangan pura-pura tak tahu Kyai, semua orang juga tahu cerita tentang kehebatan Kyai.”
“Kehebatan? Kehebatan apa?”
“Sudahlah Kyai, semua orang sudah dengar cerita yang katanya Kyai bisa berjalan diatas air. Sombong sekali Kyai, cuma bisa begitu sudah mengumbarnya ke masyarakat! Kalo cuma berjalan diatas air, saya juga bisa, bahkan menyeberangin sungai ini!”
“Astoghfirullah, saya tak pernah berkata seperti itu,” Pak Kyai menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melirikku yang berdiri tak jauh darinya. Aku semakin menjadi tak enak.

“Nah, Bapak-bapak Ibu-Ibu juga semuanya, kini saatnya saya perlihatkan siapa sesungguhnya yang terhebat didesa ini! Saya sudah 40 hari mengasah ilmu dan tirakat untuk hari ini, dan saat ini adalah saatnya untuk memperlihatkan hasilnya!” ki Golang berseru kepada seluruh masyarakat yang sedari tadi senyap menanti dengan  penasaran.

Ki Golang melirik dan tersenyum sinis pada Kyai Mullah yang masih diam tak bergerak juga tak berkata. Ia melakukan persiapan dan duduk bersila dipinggir kali. Lama ia duduk berdiam dengan khusuk dan tiba-tiba ia berdiri. Dengan sebuah teriakan yang membahana ia berlari menuju air sungai yang mengalir deras. Luar biasa, seakan sebuah daun ia berlari ringan diatas air! Benar-benar diatas air! Semua orang nampak takjub tak percaya dengan pemandangan yang mereka saksikan. Ki Golang benar-benar berjalan diatas air sambil berlari.
Hanya Kyai Mullah yang nampak tenang bahkan lirih kudengar ia mengucap “Astoghfirullah.”
Aku hanya merasa bingung dengan semua ini, bagaimana kyai menyikapinya, “ah aku benar-benar bodoh!” pikirku dalam hati.

Tapi pemandangan luar biasa itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba ki Golang berteriak kuat dan… ia tenggelam tepat ditengah sungai yang beraliran deras. Seluruh masyarakat berteriak tak percaya. Mereka berlari ke pinggir sungai.
Kyai Mullah yang sedari tadi diam langsung berseru memanggil Dullah dan Amir.
“Cepat, kalian tolong ki Golang!”
Orang yang diperintah langsung terjun ke sungai menolong ki Golang yang tak kelihatan lagi.

Lama juga Dullah dan Amir berenang menerjang aliran sungai yang deras dan menyelam menggapai ki Golang yang tenggelam. Untunglah ada Dullah dan Amir yang memang paling jago berenag di desa, dan akhirnya ki Golang dapat dibawa dipinggir.
Kyai Mullah menghampirinya dan mengurut jari kaki ki Golang dan tak lama ki Golang tersadar. Tapi tiba-tiba ki Golang berdiri sehat  seakan tak terjadi sesuatu dan tertawa.
“Sudah-sudah, aku tidak apa-apa! aku cuma tenggelam, aku memang gagal tapi aku sudah separuh perjalanan!” teriak ki Golang.
“Nah pak Kyai, sekarang giliranmu! Kalo Kyai bisa menyeberang melebihi yang aku bisa, aku akan bersujud dikakimu!”
“Subhanallah, hanya Allah yang patut untuk diberi sujud ki Golang!”
“Rupanya Kyai takut?”
Kyai hanya menggeleng tak percaya dengan kebengalan ki Golang. Dia hanya diam namun tak lama ia berkata.
“Baiklah,” sepontan seluruh masyarakat bersorak dan bertepuk tangan.
“Tapi, bukan aku yang akan melakukannya!” masyarakat kembali terdiam.
“Nah ki Golang, berapa lama ki Golang belajar agar bisa menyeberangi sungai ini?”
“Ha ha ha 40 hari tirakat, puasa!” jawab ki Golang sombong.
“Baiklah, aku akan mengajarkan cara menyeberangi sungai ini pada seseorang dalam waktu dua jam!”
Semua orang menjadi terdiam tak percaya dengan ucapan Kyai, bahkan ki Golang melotot tak percaya.
“Jangan bercanda Kyai,” katanya.
“Saya tidak bercanda dan saya akan mengajarkannya pada Budi!”
Aku seperti disamber geledek saat mendengar namaku disebut. Aku hampir tak percaya sampai akhirnya tanganku digandeng Kyai ke depan. Mungkinkah Kyai bercanda, ataukah ini hukuman untukku karena telah mempermalukannya?
Ataukah ia bersungguh-sungguh akan mengajarkan ilmunya padaku. Hatiku dag dig dug!

***

Dengan berwibawa, Kyai menggandengku ke tengah masyarakat tanpa banyak bicara. Beliau meminta golok dan tali pada seseorang dan memintaku untuk membawanya. “Mungkinkah ini salah satu alat untuk berlatih?” tanyakku dalam hati penasaran. Tapi Kyai mengajakku ke pepohonan disekitar sungai dan memintaku untuk menebangnya satu diantaranya yang tak terlalu besar. Juga dua pohon pisang dan membawanya ke pinggir sungai. Dengan cekatan beliau mengikat kayu dan dahan pisang menjadi satu. Ia juga mengajariku.
Tak lama, tak labih dari dua jam, terbentuk sebuah rakit kecil dengan dahan pisang dipinggirnya juga sebuah galah yang cukup panjang. Dan tanpa banyak bicara dia mengajakku menariknya ke pinggir sungai dan membisikan sesuatu padaku. Aku menggangguk dan seketika aku menjadi tenang luar biasa.
Dengan sekuat tenaga ku jatuhkan rakitku ke sungai dan menaikinya. Semua orang masih bengong ada juga yang berbisik.
Aku bersusah payah mengendalikan rakitku agar tak hanyut oleh aliran deras sungai. Entahlah, kekuatan apa yang telah kuperoleh tapi semuanya terasa ringan. Arus sungai yang deras itu mampu ku lewati dengan mudah, seakan aku mendapat tenaga dari orang yang kuat yang tak kelihatan. Aku hanya butuh setengah jam untuk menyeberangi sungai dan kembali lagi.

Setelah sampai ditepi lagi, Kyai menggapai tanganku untuk naik ke daratan. dan Beliau berkata.
“Nah Bapak-bapak Ibu-Ibu juga semuanya, semua bisa menyeberangi sungai ini tak hanya saya. Bahkan Budi yang sekecil ini,” belau memandangku dan tersenyum, “pun mampu.”
“Ilmu itu ada banyak ada ilmu yang wajib juga yang sunah dan semua itu adalah Ilmu Allah. Nah tugas kita adalah mempelajarinya dan memilih ilmu mana yang paling berguna dan bermanfaat juga efisien bagi kita. InsyaAllah, apapun ilmu itu jika dicari dengan jalan Allah, Allah akan meridhoinya..”
Kyai Mullah masih menggandeng tanganku dan mengajakku pulang.
“Sekarang mari kita pulang, mari kita terus bekerja sesuai dengan ilmu yang Allah anugerahkan pada kita. Ada yang diberi ilmu bertani, ada yang diberi ilmu nelayan juga ada yang diberi ilmu mengajar. Mari kita pulang…”

***

Kejadian sore tadi masih membuatku terus berfikir, apakah Kyai benar-benar bisa berjalan diatas air? Tapi kenapa kemarin beliau malah mengajari aku membuat dan menaiki rakit? Tidakkah Kyai takut malu pada ki Golang?

Pertanyaan itu terus terngiang hingga aku bertemu Kyai Mullah setelah sholat Isya. Beliau nampak berseri memandangku.
“Nah Budi, ada apa?” tanyanya lembut.
“Saya mau minta maaf sudah merepotkan Kyai,” kataku pelan.
“Tidak, tidak Bud, kamu malah membantu Bapak,”
“Membantu?”
“Iya,” aku bingung dan hanya mengerutkan dahiku.
“Kamu sudah membantu Bapak untuk berdakwah,” lanjut Kyai.
“Tapi Kyai, Budi boleh tanya sesuatu pada Kyai?”
“Tentu,”
“Tapi Kyai jangan marah,” Beliau tersenyum lebar.
“Buat apa Bapak marah? Nah apa yang mau ditanyakan?
“Sebenarnya Kyai bisa berjalan diatas air kan?”
Kyai tersenyum lembut dan membelai rambutku.
“Apapun itu, bila Allah menghendaki bisa terjadi” Kyai tersenyum lagi seperti biasa. Sungguh berwibawa dan sejuk.
Aku menjadi yakin, Kyai bisa berjalan diatas air, bahkan mungkin beliau juga yang membantuku mengendalikan rakit meski tak terlihat..
Yah aku yakin, dan aku ternsenyum bersama senyum Kyai Mullah.

***

Biarlah kerikil tajam dihadapan
Biarlah batu terjal menghadang
Raihlah ia
penunjukmu
pelitamu dalam hidupmu

Sungguh luas ia hingga ke penjuru dunia
Sungguh beraneka ia dan berwarna
Dan pilihlah ia
Yang terbaik untukmu
yang bermanfaat bagimu

Ia adalah ilmu

RSN–21/06/04/–RSN

Makna Bintang..

Bintang yang bertaburan dilangit, memang indah dan memberi inspirasi bagi milyaran manusia di bumi. Dan ternyata, bintang memiliki makna yang berbeda-beda bagi beberapa golongan orang..

Bagi para Ilmuwan:

Bintang adalah benda langit yang bersinar karena reaktor nuklir didalamnya. Atom-atom digabungkan hingga memuntahkan energi dan membuatnya memancarkan cahaya juga energi ke planet-planet disekitarnya..

Bagi para pujangga:

Bintang adalah jutaan makna. Penghibur sekaligus pemberi harapan. Teman bagi mereka yang sendiri juga saksi untuk mereka yang bercinta.

Bagi para tentara:

Bintang adalah obsesi. Bintang adalah harga diri tertinggi. Bintang adalah kilau yang harus diraih. Bintang adalah harkat juga martabat. Bintang adalah kekuasaan.

Bagi orang kaya dan pejabat:

Bintang adalah tempat memanjakan diri. Bintang adalah tempat rapat dan terkadang untuk lakukan hal-hal bejat.

Bagi para pemabuk:

Bintang adalah lambang kenikmatan. Bintang memberikan segala yang tak bisa diraih dan berfikir dan berusaha. Cukup dengan Bintang, segala fatamorgana ada didepan mata. Cukup dengan Bintang, masalah hilang meski tak lama kan kembali datang.

Bagi rakyat jelata:

Bintang adalah minuman sehari-hari. Tanpa Bintang, entah apa yang akan terjadi. Kepala senut-senut sepanjang hari. Karena semua harga membumbung tinggi hingga semua tak terbeli. Untung ada Bintang, murah dan dapat dibeli hingga ke pelosok negeri. Langsung telan, puyeng pergi..

Ternyata benar gak selamanya menang..

Ternyata benar gak selamanya menang..

Sudah 10 tahun aku meninggalkan “indahnya” kehidupan sebagai siswa PKKT. Ada banyak kenangan indah yang bisa ku kenang, namun sebuah peristiwa kecil dan ringan, seperti terpahat permanen dalam karang ingatanku.

Aku masih ingat dengan jelas wajah-wajah temanku yang masih lugu dan bersemangat. 10 anak berpakaian serba biru sedang menerima petuah bijak dari Pak Rompas, intruktur kerja bangku kami di PKKT.
Hari itu adalah hari terakhir Pak Rompas mengajar kami, karena ditingkat 3, kami tak lagi mendapat program kerja bangku.

Masing-masing dari kami diberi kesempatan untuk mengutarakan kesan dan pesan. Yah, tentu semua kesan kami adalah klise.
Namun ada yang berbeda dari teman kami yang luar biasa, Arfan. Entah apa kesan-kesan yang ia ungkapkan, tapi kami terfokus pada kata “keniscayaan” yang terucap.

Dan entah mengapa, kami semua tertawa bersamaan. Rupa-nya, inilah yang disebut kebodohan kolektif.
Hanya karena kami belum pernah mendengarnya, maka kami menertawakannya. Dan men-justifikasi, temanku yang luar-biasa itu, mengada-ada.

Seiring berjalannya waktu, pengetahuanku pun bertambah. Dan alangkah malu-nya aku, akhirnya, ribuan kali aku mendengar kata “keniscayaan” sebagai kata yang umum.

Yah, benar bisa kalah oleh kebodohan kolektif…

RSN-25/11/09-RSN